Arema FC Resmi Kontrak Sylvano Comvalius

Manajemen Arema FC secara resmi memperkenalkan Sylvano Comvalius sebagai rekrutan teranyar, Rabu (24/4) malam WIB, untuk menggantikan Robert Lima Guimaraes yang dicoret setelah turnamen pramusim Piala Presiden 2019.

Manajer umum Ruddy Widodo mengutarakan, nama Comvalius muncul berdasarkan rekomendasi kapten tim Hamka Hamzah. Namun Ruddy enggan membeberkan nilai yang harus dibayarkan Arema ke klub Malaysia, Kuala Lumpur FA, untuk mendapatkan Comvalius.

“Hamka Hamzah bicara ke saya, dia sudah bicara dengan Comvalius yang menyatakan ingin bermain di Arema. Tidak menunggu lama saya langsung menyetujuinya. Bahkan, direksi juga langsung gerak cepat mendatangkan sang pemain. Sebenarnya ada nama lain, tapi kami tahu track record dia di Bali United seperti apa,” beber Ruddy.

“Agennya ternyata di Surabaya, dan kami sepakat tentang harga. Adat sepakbola di Asia Tenggara ini berbeda dengan Eropa yang terbuka, karena sudah menyangkut pengorbanan. Presiden KL tahu Comvalius ke Arema, sehingga ada nilai yang harus dibayarkan.”

“Kami pakai ilmu diam-diam, karena pernah kehilangan pemain yang sudah deal, tapi kemudian dia pergi ke Thailand. Mudah-mudahan dengan puzzle terakhir ini, Arema lebih berprestasi dibandingkan sebelumnya.”

Comvalius menjadi bagian Kuala Lumpur pada musim 2019 sejak didatangkan ke klub ibukota Malaysia tersebut pada Desember lalu. Pemain asal Belanda ini tampil di lima laga, dua diantaranya dari bangku cadangan, serta mencetak satu gol.

“Memang benar saya tidak bisa mencetak banyak gol di Thailand dan Malaysia. Tapi dalam kehidupan sepakbola terkadang hasil baik tidak mengiringi kita. Kini ada peluang saya kembali lebih baik dibanding sebelumnya,” tutur Comvalius.

“Masa lalu sudah selesai, dan saya harus belajar dari masa lalu salah satunya adalah saya pernah topskor. Saya berusaha mewujudkannya lagi, tapi bagi saya juara lebih penting ketimbang mencetak banyak gol. Arema adalah klub besar dengan target di Liga yang sangat jelas, yaitu mendapatkan juara.”

Penyerang berusia 31 tahun ini juga berusaha mengklarifikasi pernyataannya di media sosial tentang Liga 1 seperti liga sirkus pada 2017. Saat itu, Bali United gagal juara, karena kalah head-to-head dari Bhayangkara FC, walau mengumpulkan poin sama dan lebih produktif. Kemenangan walk-over (WO) atas Mitra Kukar menjadi kunci Bhayangkara FC tampil sebagai juara.

“Memang kami mengakhiri musim yang mengecewakan. Kami hampir saja menjadi juara, tapi ada kejadian yang seperti itu [kemenangan WO], dan saya tidak mengerti. Saya bicara seperti bercanda, namun media sosial menyebarkannya secara tidak terduga. Yang jelas saya cinta Indonesia,” tutupnya. (gk-48)