Indra Sjafri, Penyumbang 2 Medali di Tengah Karut-marutnya Federasi

Timnas Indonesia sukses merengkuh mahkota juara Piala AFF U-22 2019 usai menekuk Thailand dengan skor 2-1 di partai final. 

Dalam laga yang diselenggarakan di Stadion Phnom Phen, Kamboja, Selasa (26/02/18), anak asuh Indra Sjafri sukses tampil gemilang. Dominasi permainan terus ditunjukkan di hampir seluruh jalannya pertandingan.

Pelatih Timnas U-22, Indra Sjafri, pun pantas mendapatkan apresiasi tinggi atas pencapaian ini. 

Pasalnya, Timnas Indonesia U-22 tak memiliki waktu banyak  untuk persiapan main di Piala AFF U-22. Pemusatan latihan sendiri baru dilakukan pada 7 Januari lalu. 

Namun, di tengah mepetnya waktu persiapan serta ketidak-yakinan masyarakat terhadap skuat yang ada, Indra Sjafri bersama Timnas U-22 terbukti sanggup membalikkan semua prediksi. 

Hebatnya lagi, Indra Sjafri adalah satu dari sedikit pelatih lokal yang ada di kompetisi ini.

Sebagai informasi, trofi Piala AFF U-22 adalah gelar internasional kedua Indra Sjafri untuk Timnas Indonesia. Sebelumnya, pelatih asal Sumatera Barat ini pernah membawa Timnas U-19 juara Piala AFF pada tahun 2013 lalu. 

Menariknya, ada satu kesamaan identik yang mengiringi dua prestasi Indra Sjafri untuk Timnas Indonesia. 

Fakta mencatat, dua gelar juara yang dipersembahkan Indra Sjafri datang di saat federasi sepak bola nasional alias PSSI tengah dalam masalah akut. 

Kisruh PSSI Tahun 2013 dan Kenangan Manis di Sidoarjo
Timnas Indonesia u-19 sukses merasakan gelar juara Piala AFF U-19 bersama skuat yang dikomandoi oleh Indra Sjafri. Dalam laga final yang dimainkan di Stadion Gelora Delta Sidoarjo itu, Timnas U-19 mengandaskan perlawanan Vietnam melalui babak adu penalti. 

Menariknya, pada tahun yang sama, federasi sepak bola Indonesia, PSSI, tengah dalam titik nadir. Kala itu sepak bola Indonesia baru saja mendapat ujian berat dengan adanya dualisme kompetisi dan federasi. 

Dimulai pada tahun 2011, Liga Super Indonesia (LSI) terpecah dan muncul Liga Primer Indonesia. Baik LSI dan IPL sama-sama berjalan dengan dikelola oleh operator yang berbeda.

Cobaan tak hanya berhenti sampai di situ, pada akhir tahun 2011, muncul dualisme federasi sepak bola di tanah air di mana muncul KPSI (Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia) sebagai tandingan PSSI yang diakui FIFA. 

KPSI dibentuk sebagai protes atas terpilihnya Djohar Arifin beserta jajarannya sebagai ketua dan pengurus PSSI yang baru.  

Sebanyak empat anggota exco PSSI diketahui menjadi dalang berdirinya KPSI. Mereka adalah La Nyalla Mattalitti, Roberto Rouw, Tony Apriliani, dan Erwin Budiawan.

KPSI menyatakan mengambilalih kewenangan PSSI selaku otoritas sepak bola Indonesia. KPSI sendiri juga dihuni oleh eks pengurus Nurdin seperti Gusti Randa dan Hinca Panjaitan. 

Pada bulan Maret 2012 La Nyalla pun resmi menjadi ketua PSSI versi KPSI. Sebagian klub anggota PSSI juga mulai menyebrang mendukung KPSI. 

Dualisme kompetisi semakin menjadi-jadi setelah KPSI secara tegas mendukung ISL yang dikelola PT Liga Indonesia. 

Sementara kompetisi resmi yang saat itu diakui FIFA dan PSSI pimpinan Djohar Arifin adalah Liga Primer Indonesia yang dikelola PT LPIS. 

Konflik ini akhirnya selesai setelah proses pendamaian yang melibatkan FIFA dan Menteri Pemuda dan Olahraga pada bulan awal tahun 2013 lalu. Namun begitu, PSSI masih oleng layaknya kapal tanpa kendali. 

Di saat itulah, ketika masyarakat sudah muak dan dipusingkan dengan masalah internal di tubuh PSSI, Indra Sjafri sanggup mejadi oase dengan membawa Timnas Indonesia U-19 berprestasi di Piala AFF U-19 yang kebetulan diselenggarakan di rumah sendiri, Sidoarjo. 

Terulangnya Sejarah: Skandal Mafia Bola dan Prestasi Timnas U-22
Selepas terakhir melatih Timnas Indonesia U-19 di kompetisi Piala Asia U-19 2018, Indra Sjafri akhirnya ditawari pekerjaan baru sebagai pelatih Timnas Indonesia U-22. 

Ternyata keputusan PSSI untuk menunjuk Indra Sjafri tepat karena pelatih asal Sumatera Barat itu sanggup mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan padanya. 

Hampir enam tahun berselang setelah membawa Timnas U-19 juara, Indra Sjafri sukses mempersembahkan trofi Piala AFF U-22 untuk Timnas Indonesia U-22.

Akan tetapi, sama seperti tahun 2013 lalu, gelar juara yang diraih Timnas U-22 di Piala AFF U-22 berbarengan dengan pergolakan besar yang tengah terjadi dalam tubuh PSSI dan sepak bola nasional. 

Jika pada 2013 lalu ada dualisme liga dan federasi, maka masalah yang menimpa kali ini adalah terbongkarnya skandal pengaturan skor yang melibatkan banyak elite PSSI. 

Indra Sjafri dan tim berangkat ke Kamboja dengan kondisi di mana Plt. Ketua Umum PSSI telah berstatus tersangka oleh Satgas Antimafia bola.

Tak hanya ketua umum, sejumlah exco dan anggota Komdis pun juga telah ditetapkan sebagai tersangka dalam skandal pengaturan skor.

Namun, di tengah karut marutnya PSSI, Indra Sjafri sanggup membawa Timnas U-22 merengkuh trofi juara Piala AFF U-22 2019. Hal ini identik dengan yang dilakukannya pada Timnas U-16 tahun 2016 silam. 

Sepakan Deja Vu, Indra Sjafri kembali mampu mempersembahkan medali bagi Timnas Indonesia di tengah karut marut yang tengah terjadi di tubuh PSSI dan sepak bola nasional. 

Tentu saja hal ini bisa dengan mudah kita sebut sebagai kebetulan semata. Namun, bukan tak mungkin gonjang-ganjing di tubuh PSSI justru bisa memberikan motivasi lebih kepada pemain untuk membuktikan diri di lapangan. 

Hal serupa juga pernah terjadi di Italia saat Timnas Azzurri sanggup merengkuh juara Piala Dunia 2006 di tengah skandal Calciopoli yang menimpa Liga Italia dan klub-klub besar di dalamnya. 

Lalu, apakah kita harus menunggu PSSI tumbang dulu agar Timnas Indonesia bisa berprestasi? Hanya waktu dan Indra Sjafri yang bisa membuktikan.