Arak-arakan ke Istana, Timnas U-22 Pakai Bus yang Sama dengan Persija

Tim Nasional Indonesia U-22 diarak pagi ini usai memenangi Piala AFF di Kamboja, Selasa(26/2) lalu. Mereka diarak hingga menuju Istana Negara, Jakarta Pusat. Timnas juara AFF U-22 diarak menggunakan bus double decker, yang merupakan milik klub Liga 1 Persija Jakarta.

Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga RI (Sesmenpora) Gatot S. Dewa Broto mengucapkan terima kasih kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, karena sudah mau meminjamkan bus tersebut untuk arak-arakan timnas juara AFF U-22.

“Kami juga berterima kasih kepada Gubernur Anies karena sudah meminjamkan bus ini. Busnya sama seperti yang dipakai arak-arakan Persija beberapa waktu lalu,” kata Gatot di Hotel Sultan Jakarta, Kamis (28/2).

1. Arak-arakan dilakukan hari ini agar Timnas U-22 dapat istirahat
Gatot mengungkapkan, arak-arakan dilakukan Kamis ini untuk memberi waktu istirahat bagi para pemain yang akan menghadapi kompetisi selanjutnya.

“Kenapa hari ini dan tidak hari Minggu? Karena mereka juga butuh istirahat. Menurut coach Indra, mereka akan ikut penyisihan Piala Asia,” kata Gatot.

Kegiatan arak-arakan Timnas U-22 ini dimulai dari Hotel Sultan, Jalan Sudirman, Semanggi, lalu mengarah ke fly over TVRI atau depan Gedung Kemenpora, belok kiri mengarah ke Hotel Mulia, Plaza FX, Jalan Sudirman, lalu ke MH Thamrin, dan berakhir di Istana Presiden di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

2. Kemenpora minta maaf atas kemacetan yang ditimbulkan
Sebelumnya, Gatot meminta maaf kepada masyarakat yang menggunakan jalan di sejumlah rute yang dilalui Timnas tersebut.

“Kami atas nama pemerintah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat di sekitar Sudirman hingga MH Thamrin, karena terjadi kemacetan,” ujar Gatot saat ditemui di Hotel Sultan Jakarta Pusat, Kamis (28/2) pagi.

3. Arak-arakan sebuah bentuk apresiasi
Arak-arakan tersebut dikatakan Gatot, merupakan bentuk apresiasi kepada Timnas U-22 yang berhasil menjadi juara dalam pertandingan Piala AFF 2019.

“Walaupun ini kelasnya Asia Tenggara, tapi yang utama adalah bahwa ini sebagai bentuk apresiasi dari pemerintah. Ini bukan sesuatu yang berlebihan,” Gatot menjelaskan.