9 Pemain Lokal yang Memanaskan Persaingan Tim Bertabur Bintang Madura United

Madura United melakukan perombakan tim secara besar-besaran menyambut musim 2019. Sempat mempertahankan 11 pemain, kini hanya tersisa sembilan pemain musim lalu yang bertahan.

Dua pemain, yaitu Rifad Marasabessy kembali ke PS Tira Persikabo, sedangkan Irsan Lestahulu dipinjamkan ke PSS Sleman. Sembilan pemain tersisa di antaranya adalah Satria Tama, Guntur Ariyadi, Fachruddin Aryanto, Andik Rendika, Alfath Faathier, Asep Berlian, Slamet Nurcahyo, Zah Rahan, dan Greg Nwokolo.

Jumlah itu kemudian masih ditambah dengan tiga pemain asing baru, yaitu Jaimerson Xavier (bek/Brasil), Dane Milovanovic (gelandang/Australia), dan Aleksandar Rakic (striker/Serbia). Sisanya, terdapat sembilan rekrutan baru yang berstatus pemain lokal didatangkan dari berbagai klub.

Skuat Madura United saat ini dianggap sebagai tim bertabur bintang dan menjadi kandidat kuat juara musim ini. Nama-nama pemain itu telah tercatat memiliki prestasi gemilang dalam sepak bola Indonesia.

Sebut saja Jaimerson yang baru saja menjuarai Liga 1 2018 bersama Persija Jakarta. Lalu, ada pula Rakic yang tercatat sebagai top scorer Liga 1 2018 bersama PS Tira (sekarang PS Tira Persikabo).

Sebanyak sembilan nama pemain lokal anyar juga tidak kalah mencatatkan prestasi. Keberadaan mereka diyakini bakal menambah persaingan ketat di skuat Madura United. Siapakah nama-nama tersebut?

Muhammad Ridho Djazulie

Penjaga gawang satu ini belum pernah tercatat meraih gelar juara sepanjang kariernya. Namun, Ridho bisa dibilang adalah kiper bertalenta yang dimiliki oleh Indonesia. Dia sempat masuk skuat Timnas Indonesia yang tampil di Piala AFF 2018.

Pada musim 2017-2018, Ridho membela Borneo FC dan berhasil merebut tempat utama di bawah mistar. Kiper asal Pekalongan ini total mencatatkan sebanyak 44 penampialn bersama Pesut Etam. Di Madura United, dia harus bersaing dengan Satria Tama yang berlabel kiper Timnas Indonesia U-22.

Fandry Imbiri

Stoper asal Jayapura ini pertama muncul menjadi penggawa Persipura Jayapura. Dia pernah membela Semen Padang pada ISC A 2016, kemudian memutuskan hengkang pada pertengahan musim 2017 dan memutuskan membela Persebaya Surabaya.

Fandry merupakan bagian integral Persebaya Surabaya saat menjuarai Liga 2 2017. Pemain berusia 27 tahun itu memiliki peran penting di lini belakang hingga Liga 1 2018 dengan rekan duet stoper yang berganti-ganti, mulai dari Andri Muliadi sampai Otavio Dutra.

Kini, Fandry harus bersaing dan berjuang keras merebut tempat utama di Madura United. Duet jantung pertahanan Madura United sampai sekarang masih dimiliki oleh Jaimerson Xavier dan Fachruddin Aryanto.

Kadek Raditya Maheswara

Pemain yang satu ini tidak terlalu banyak dikenal publik. Posisinya sebagai stoper sempat membuatnya agak tersingkir di Timnas Indonesia U-19 arahan Indra Sjafri. Sebab, posisi itu beberapa kali menjadi milik Nurhidayat Haji Haris dan Rachmat Irianto.

Begitu Rachmat Irianto absen karena cedera, Kadek menjadi pilihan utama untuk menemami Nurhidayat di jantung pertahanan. Pemain asal Bali ini berperan buat Timnas Indonesia U-19 yang meraih peringkat ketiga dalam dua edisi beruntung Piala AFF U-19 tahun 2017 dan 2018.

Berbeda dengan rekan-rekannya di Garuda Nusantara Jaya, Kadek sempat memutuskan membela klub Liga 2 pada 2018, yaitu Persiba Balikpapan. Kini dia menjadi bagian Madura United dan harus berjuang seperti yang dilakukan oleh Fandry.

Marckho Meraudje

Marckho Meraudje adalah satu di antara pemain baru Madura United yang tergolong dalam eksodus dari Sriwijaya FC. Musim lalu, pemain kelahiran Jayapura ini menjadi pilihan utama bek kanan Sriwijaya dan mencatatkan 30 penampilan.

Musim ini, diprediksi Marckho semakin leluasa untuk menempati posisi bek kanan Madura United tanpa takut bersaing. Sebab, bek kanan muda Rifad Marasabessy telah bergabung PS Tira Persikabo. Satu-satunya pesaing buatnya adalah Guntur Ariyadi yang merupakan pemain serba bisa.

Zulfiandi

Gelandang asal Aceh ini memang masih berusia 23 tahun. Namun, namanya sudah muncul sejak usia belasan. Zulfiandi merupakan penggawa Timnas Indonesia U-19 arahan Indra Sjafri saat menjuarai Piala AFF U-19 2013 di Sidoarjo.

Sempat bergabung klub asal daerahnya, PSSB Bireun, Zulfiandi kemudian memutuskan bergabung Bhayangkara FC. Dia berhasil membawa klub berjulukan The Guardian itu menjadi kampiun Liga 1 2017 saat masih ditangani oleh Simon McMenemy.

Musim lalu, Zulfiandi memutuskan bergabung ke Sriwijaya FC dan satu tim dengan Marckho. Sayangnya, klub berjulukan Laskar Wong Kito itu telah terdegradasi ke Liga 2 dan Zulfiandi kini menjadi gelandang andalan Madura United.

Syahrian Abimanyu

Gelandang muda kelahiran Banjarnegara ini merupakan junior Zulfiandi saat di Sriwijaya FC musim lalu. Akan tetapi, pemain yang akrab disapa Abi ini sudah mulai dikenal publik sebelum bergabung Sriwijaya.

Abi merupakan pemain andalan Indra Sjafri di Timnas Indonesia U-19 dalam Piala AFF U-19 2017 dan 2018. Perannya cukup penting di lini tengah sehingga tak tergantikan menjaga keseimbangan Garuda Nusantara Jaya.

Saat masih muda, Abi pernah menimba pengalaman junior bersama klub Spanyol, Levante. Dia pun sudah bergabung memulai karier level internasional bersama Timnas Indonesia U-16 membuatnya menjadi gelandang masa depan Indonesia.

Ghufroni Al Maruf

Di antara deretan pemain lokal baru Madura United, nama satu ini barang kali yang paling asing di telinga pecinta sepak bola nasional. Berbeda dengan pemain lainnya, pemain yang akrab disapa Roni ini merupakan pemain Liga 2 2018 bersama Madura FC.

Roni merupakan pemain asli Malang jebolan Akademi Arema. Dia sempat membela Persegres Gresik United di Liga 1 2017, sebelum akhirnya membela Madura FC. Kini dia mencoba peruntungan bersama Madura United.

Andik Vermansah

Nama pemain satu ini sudah banyak dikenal publik dan telah berkali-kali menjadi bahan perbincangan. Andik adalah pemain kelahiran Jember dan besar di Surabaya. Dia kemudian menimba karier junior bersama Persebaya dan masuk skuat senior pada 2008-2013.

Keputusan Andik membela Persebaya 1927 saat diterpa dualisme dengan Persebaya DU membuatnya disayangi oleh Bonek, pendukung Persebaya. Daripada membela Persebaya DU (kini Bhayangkara FC), Andik lalu memutuskan hijrah ke Malaysia pada 2014.

Dia menjadi bagian Selangor FA dalam empat musim pada 2014-2017. Musim 2015 bisa jadi menjadi yang paling berkesan karena dia membawa klub berjulukan Gergasi Merah itu menjuarai Piala Malaysia. Pada 2018, Andik pindah ke Kedah FA dan menjadi pemain asing yang mengisi slot Asia.

Sempat dikabarkan akan kembali ke Persebaya, Andik kini menjadi bagian Madura United. Pemain berusia 27 tahun itu telah menyumbang satu gol dalam dua penampilan bersama Madura United di Piala Indonesia 2018.

Beto Goncalves

Striker naturalisasi ini juga sudah malang melintang di Liga Indonesia dan dikenal secara meluas. Datang sebagai pemain asing berpaspor Brasil, Alberto “Beto” Goncalves dikenal sebagai pemain spesialis top scorer berbagai klub yang dibelanya di Indonesia.

Beto merupakan fenomena dalam sepak bola Indonesia dengan reputasinya sebagai salah satu raja top scorer di berbagai kompetisi dan turnamen. Total, striker berusia 38 tahun itu telah mendapatkan tujuh gelar individu sebagai top scorer.

Tiga di antara diraih saat berseragam Persipura, yaitu Copa Indonesia 2007, Inter Island Cup 2011, dan ISL 2011/2012. Di musim 2016, dia berseragam Sriwijaya FC dan meraih empat gelar tersebut. Masing-masing adalah Piala Gubernur Kaltim 2016, Piala Bhayangkara 2016, dan TSC 2016, Piala Gubernur Kaltim 2018.