Milomir Seslija Tegaskan Kemenangan Telak Persib Tak Bisa Jadi Acuan

Jelang pertemuan melawan Persib Bandung dalam leg pertama 16 besar Piala Indonesia di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Senin (18/2/2019), pelatih Arema, Milomir Seslija, menebar sesumbar.

Milo mengaku sudah menyiapkan tim asuhannya untuk bisa meraih kemenangan di Bandung. Meski dalam beberapa tahun terakhir, raihan terbaik Singo Edan di Bandung adalah hasil imbang, yakni pada musim 2017.

Pelatih 54 tahun asal Bosnia ini menilai Arema lebih teruji karena tim yang dihadapi di fase 32 besar, Persita Tangerang, punya kualitas yang lebih bagus ketimbang lawan Persib di fase yang sama sehingga dia tidak kaget ketika Persib bisa menang 7-0 melawan Persiwa Wamena.

“Persita punya kualitas tim yang lebih bagus, sedangkan Persiwa masih belum banyak persiapan,” jelasnya.

Persita musim lalu meraih posisi keempat Liga 2, sementara pencapaian Persiwa masih di bawahnya. Ditambah lagi, tim dari tanah Papua itu melakukan banyak perubahan komposisi pemain.

“Jadi, saya tekankan kepada semua pemain Arema agar tidak terlalu memikirkan pertandingan melawan Persib. Jalani persiapan normal seperti pertandingan biasanya saja,” kata mantan pelatih Madura United ini.

Seperti diketahui, pemain Arema seringkali merasakan tekanan jelang pertandingan melawan Persib karena rivalitas kedua suporter yang biasanya berujung pada teror kepada pemain.

Skuat Arema selalu menggunakan rantis dari hotel menuju stadion untuk menjaga keamanan pemain. Suasana tribune stadion juga selalu berisik ketika pemain Arema menguasai bola.

“Saya selalu sampaikan kondisi seperti ini sudah biasa dalam sepak bola Indonesia. Jadi sekarang bukan pertama kali meraka merasakannya. Harusnya sudah bisa menghadapi pertandingan seperti ini,” imbuh pelatih berlisensi AUFA Pro ini.

Beberapa waktu ini Milo juga menanamkan filosofi baru untuk skuat Arema. Selama ini Arema lebih sering menang ketika main di kandang. Ini yang ingin diubah Milo. Dia ingin anak buahnya juga bermain seperti di kandang sendiri saat tandang sehingga pemain tetap ngotot memburu kemenangan layaknya bermain di hadapan suporter sendiri.

“Jangan membuat kalah di kandang lawan itu hal yang biasa. Karena di mana pun bermain, harus berusaha keras untuk menang layaknya di kandang sendiri,” pungkasnya mengakhiri pembicaraan.