Ghozali Siregar, dari Dolok Sanggul, Kini Jadi Pemain Termahal Persib

Situs penyedia data transfer dan nilai jual pemain, Transfermarkt, merilis pemain-pemain dengan nilai transfer termahal milik klub Persib Bandung. Ternyata tidak hanya penggawa asing, beberapa di antaranya adalah pemain lokal.

Yang membanggakan, dari enam pemain termahal Maung Bandung ada pemain asal Sumatera Utara. Ia adalah Ghozali Muharam Siregar. Baru memperpanjang kontrak dengan Persib pada pertengahan Januari 2019, kini ia pun menempati peringkat enam pemain termahal di dalam skuat.

Ghozali Siregar memiliki nilai transfer yang sama dengan Febri Hariyadi, yakni 175 ribu euro atau sekitar Rp2,8 miliar. Pemain yang juga berposisi sebagai winger itu bergabung dengan Persib Bandung pada Februari 2018. Awalnya hanya menjadi pelapis Febri Haryadi. Namun kini nilai transfernya sudah sama dengan Febri.

Siapa Ghozali sebenarnya? Yuk simak fakta-faktanya.

1. Lahir di Dolok Sanggul, Humbanghasundutan

Ghozali Muharam Siregar lahir dari perkampungan di Sumatera Utara. Nama kampung kelahirannya adalah Dolok Sanggul, Kabupaten Humbanghasundutan. Daerah ini bisa dibilang pedalaman. Berada di sekitar Danau Toba dan memerlukan waktu sekitar delapan jam jalan darat dari Kota Medan menuju Humbanghasundutan.

Ayahnya bernama Syafarudin Siregar sedangkan ibunya bernama Waniati. Namun, kini ia dan keluarganya tidak lagi tinggal di Doloksanggul, melainkan sudah pindah ke Kecamatan Limapuluh, Kabupaten Batubara, berjarak empat jam jalan darat dari Kota Medan.

2. Nge-fans dengan Diego Maradona

Ghozali lahir pada 7 Juli 1992. Walau hanya bertinggi badan sekitar 160 sentimeter, tapi jangan anggap remeh dirinya sebab di lapangan hijau ia punya akselerasi yang tinggi dan kemampuan crossing yang bagus. Selain itu, Ghozali juga fasih dimainkan di sayap kanan maupun kiri.

Terkait pemain idola, Ghozali sendiri mengaku nge-fans berat dengan pemain legendaris yang bertubuh mini dan gempal yakni ‘Si Tangan Tuhan’ dari Argentina, Diego Maradona. Tak heran permainan Ghozo (sapaan akrabnya) mirip dengan idolanya tersebut: tampil ngotot, berani melewati lawan, dan punya sepakan keras.

3. Produta FC jadi tim profesional pertama

Sejak kecil, Gozhali sudah merantau ke Medan dan Jakarta untuk mendulang ilmu sepakbola. Ia memulai belajar dari Sekolah Sepakbola (SSB) SSB Bina Persada tahun 2005. Setahun berikutnya ia masuk seleksi pemain PSSI dari Sumut. Tahun 2007 ia pun masuk skuat Timnas U-16.

Pada tahun 2007-2009 ia membela tim prestasi di Medan, yakni Kurnia FC dan Medan United. Pada tahun 2010 ia resmi membela klub profesional Protitan untuk berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia. Setahun berikutnya Protitan berganti nama menjadi Produta FC. Pada tahun 2013, Ghozali dkk. berhasil membawa Produta menjuarai Divisi Utama.

Namun sayang, karena regulasi, Produta gagal berlaga di Liga Premier dan tetap di Divisi Utama. Hingga 2015, Ghozo tetap membela Produta.

4. Pelita Bandung Raya jadi klub Liga 1 pertama Ghozali

Setelah mati-matian berjuang membawa Produta FC naik ke Liga 1, namun kandas, akhirnya Ghozali dan sejumlah pemain Produta FC hijrah. Ghozo memilih pindah ke Pelita Bandung Raya (PBR) bersama sahabatnya di Produta, Rahmad Hidayat (kini di Bhayangkara FC). Ini adalah klub Liga 1 pertamanya pada tahun 2015.

Setahun berikutnya, Ghozo ke Persegres Gresik United yang kala itu juga berada di kasta di Liga 1. Di sini ia juga bersama sejumlah eks Produta FC, di antaranya adalah Donny Fernando Siregar, Agus Nova, Romy Agustiawan, dan Arsyad Yusgiantoro. Ada pula nama Riko Simanjutak (sekarang Persija Jakarta) dan Bima Sakti dalam skuat Persegres kala itu.

5. Ikut trial di Persib Bandung

Setahun membela Persegres, kontrak Ghozali tidak diperpanjang. Ia pun diikat kontrak oleh PSM Makassar pada tahun 2017. Beruntung ia masih bisa membela klub Liga 1 setelah jeblok bersama Kebo Giras. Namun sayang, kontraknya hanya satu tahun dan tidak diperpanjang oleh Juku Eja.

Pada jeda kompetisi, Ghozo pun mengikuti trial di Persib Bandung. Setelah beberapa minggu mengikuti trial, akhirnya ia dikontrak manajemen Maung Bandung. Semula ia selalu bermain dari bangku cadangan. Pasalnya saingan Ghozo sangat ketat di antaranya Febri Haryadi, Atep, dan nama-nama beken lainnya.

Namun Ghozo selalu mampu menunjukkan kualitasnya saat dimainkan dari bangku cadangan. Tak jarang ia menjadi super-sub atau mencetak gol pada laga-laga penting.

Tahun ini menjadi tahun kedua Ghozo di Maung Bandung. Tak dinyana, ternyata kontraknya diperpanjang. Bahkan kini, nilai transfernya mencapai 175 ribu euro atau sekitar Rp 2,8 miliar setara dengan pemain langganan timnas Indonesia, Febri Hariyadi.

Selamat, Ghozo. Semoga terus menjadi banteng di perantauan!