Laga Keras dan Kartu Merah, Wakil Banten Sesalkan Kepemimpinan Wasit Final Piala Soeratin 2019

Final Piala Soeratin 2019 tampak berjalam sesuai harapan di Stadion Supriyadi Kota Blitar, Sabtu malam. Laga puncak turnamen kategori usia di bawah 17 tahun itu menyajikan dua kutub sepak bola berbeda yang menjadi wakil terbaik daerah.

Persebaya Surabaya dengan tipikal permainan yang dikenal ngeyel dan keras khas Jawa Timur, diledeni dengan permainan teknik bercampur agresif khas tim-tim asal Banten lewat Persipan Pandeglang.

“Saya sangat senang dengan suguhan permainan final malam ini. Menurut kami, pertandingan sangat bagus dengan permainan terbaik kedua tim,” tandas Eko Sutriyono.

Kendati demikian, Asisten Pelatih Persipan Pandeglang itu menyayangkan kepemimpinan wasit yang memimpin laga. Menurutnya, banyak keputusan yang kurang jeli dilakukan Rohani dari Jakarta sepanjang laga, hingga tensi permainan menjadi tinggi.

Puncaknya adalah kartu merah bagi Deka M. Toha di menit 73, setelah serangkaian keputusan tendangan bebas yang sering menuai protes pemain Persipan. Kapten tim Persipan itu harus meninggalkan lapangan setelah dua kali melakukan pelanggaran keras setelah di menit 53.

“Sedikit menyayangkan saja. Permainan yang bagus, tapi dirusak oleh wasit,” tegas Asisten dari Supriyono Salimin tersebut.

Persipan pun harus puas dengan posisi runner-up setelah tak mampu ketinggalan dua gol hingga 90 menit laga. Persebaya pun berhak meraih trofi juara lewat sepasang gol kemenangan yang disarangkan Dicky Kurniawan Arifin menit 17 dan Akbar Firmansyah menit 32.

Sementara di laga sore harinya, Persikabo Bogor sukses mengunci peringkat tiga terbaik Piala Soeratin U-17. Tim asal Jawa Barat itu mengalahkan Bali United melalui adu penalti dengan skor akhir 6-5, setelah imbang 1-1.