Tak Ada Pemandu Bakat, Semakin Kuatkan Piala Suratin U-17 Terkesan Berjalan Apa Adanya

PSSI memang harus terus berbenah untuk menjadi lebih baik lagi. Sebagai federasi sepak bola tertinggi di Tanah Air, PSSI sudah semestinya lebih peduli dengan memberi perhatian tinggi kepada setiap kejuaraan yang berada di bawah naungannya.

Salah satunya adalah dengan menempatkan pemandu bakat (Talent Scouting), yang bertugas untuk memantau sejumlah pemain dengan kemampuan individu spesial, sehingga bisa menjadi asupan penting bagi tim nasional Indonesia.

Fenomena ini lah yang membuat sejumlah klub mengeluh. Pasalnya, ketidakhadiran pemandu bakat yang mewakili PSSI, tidak sejalan dengan misi pembinaan pemain muda yang tengah digalakkan klub-klub tanah air melalui Piala Suratin pada usia di bawah 17 tahun.

“Karena setiap pemain sepak bola terutama yang berusia muda di Indonesia, pasti ingin memakai lambang Garuda di dadanya. Seharusnya mereka bisa lebih memantau pada setiap kompetisi yang diputar,” kata Eko Sutriyono.

“Ya mudah-mudahan PSSI berubah pikiran untuk hadir dan melihat final (Sabtu) besok,” Asisten Pelatih Persipan Pandeglang itu menambahkan.

Hal itu pun semakin menyiratkan bahwa ajang Piala Suratin berjalan dengan apa adanya.

Bahkan, muncul asumsi jika PSSI lebih memperhatikan dan memberi prioritas pada pemutaran kompetisinya yang dikelola secara profesional, melalui Liga 1 U-16 dan U-19 yang berorientasi pada akademi.

Gelaran Piala Suratin pun seakan menjadi anak tiri. Padahal, kejuaraan yang menjadi agenda tahunan PSSI itu juga bisa menjadi pintu gerbang pemain yang tidak sempat terpantau bakatnya melalui akademi di Liga 1 U-16 maupun U-19.

“Patut dipertanyakan juga. Bagaimana pun, ajang seperti ini kan muaranya ke tim nasional,” ungkap Direktur Amatir Persebaya Surabaya, Saleh Hanifah.

“Padahal, kami sampai ke babak final ini tidak dengan mudah. Menjadi yang terbaik dari 60an klub di Jawa Timur itu tidak gampang,” pungkasnya.