Bak Roller Coaster, Inilah Perjalanan Kiprah Persik Kediri di Liga Indonesia

Di era perdana Liga Indonesia di tahun 1990an, Persik Kediri benar-benar tenggelam. Bahkan pamor mereka sedikit kalah dari tetangganya Persedikab Kab Kediri yang terjun di kasta Divisi 1

Musim 2001, Persik akhirnya bisa berkiprah di Divisi I, dan satu kasta dengan Persedikab.

Sayang raihan kedua tim berbeda jauh. Jika Persedikab berhasil promosi ke kasta tertinggi Divisi Utama 2002, Persik ternyata harus puas tersandung di babak penyisihan. Tepatnya di grup tengah II, usai kalah posisi dengan PSIS Semarang dan Indocement Cirebon yang lolos ke babak selanjutnya.

Persik ada di posisi ketiga di atas Peseden Denpasar, Persitara Jakarta Utara dan PSB Bogor. Dari 10 laga yang sudah dijalani, Persik hanya meraih tiga kemenangan, empat kali seri dan tiga kali kalah.

Musim 2002, ternyata situasinya berbeda. jika Persedikab harus terdegradasi, ternyata Persik sukses promosi.

KEJAYAAN TELAH TIBA

Musim DIvisi i 2002, Persik diperkuat tiga legiun asing asal Cile, yakni Fernando, Juan Carlos dan Alejandro Bernald, pada tahun 2002 Persik menorehkan tinta emas setelah berhasil menyabet Juara Divisi I PSSI, di mana pertandingan empat besarnya diselenggarakan di Manado.

Prestasi itu memastikan Persik masuk Divisi Utama Ligina IX/2003.

Masa kejayaan Persik ternyata tak bisa dibendung. Di musim 2003 di bawah tangan disingin Jaya Hartono, Persik berhasil menjadi juara Divisi Utama Liga Indonesia 2003.

Persik berhasil mengalahkan 19 peserta lainnya. Dari 38 pertandingan, Macan Putih berhasil mendulang 18 kemenangan, 13 seri dan hanya tujuh kali menelan kekalahan.

Sepanjang musim, Persik juga tercatat sebagai tim paling produktif dengan sukse smencetak 72 gol, dan rim yang paling minim kebobolan, yakni hanya kebobolan 32 gol.

Bintang Persik kala itu adalah Ebi Sukore, Musikan, Harianto, Claudio Vijan, Bamidelle Frank Bob Manuel, Johan Prasetyo, Khusnul Yuli.

Jaya Hartono berhasil jadi pelatih terbaik, Musikan juga berhasil menjadi pemain terbaik. Sayang bintang Persik Bamidelle Frank Bob Manuel yang mencetak 29 gol, gagal jadi top skor, setelah dia kalah dua gol dari Oscar Aravena asal PSM Makassar.

Musim Divisi Utama 2004, Persik gagal mencatatkan prestasi serupa. Tim ini harus puas ada di papan tengah, tepatnya dua peringkat kesembilan dari 18 peserta. Dari 34 laga, Persik sukses mendulang 14 kemenangan, 4 seri, dan malah lebih banyak menelan kekalahan, yakni 16 kali.

Bamidele Bob Manuel masih jadi andalan musim ini, termasuk adanya sosok Ekene Michael Ikenwa, hingga nama-nama senior seperti Musikan.

Berbagai pembenahan dilakukan di musim berikutnya. Budi Sudarsono dihadirkan, termasuk sosok Christian Gonzales. Manajemen Persik masih ingat betul aksi gonzales pada tanggal 17 januari 2004. Saat itu dua golnya di menit ke-55, dan 76 membuat Persik kalah 0-2 dari PSM.

momen inilah yang membuat Persik akhirnya kepincut untuk mendapat tanda tangan Gonzales, dan bersyukur pemain berjuluk El Loco tersebut mau untuk bergabung.

Gonzales berhasil membuktikan kualitasnya, dengan raihan top skor di akhir kompetisi dengan raihan 25 gol. Sayang di musim ini dirinya gagal membawa Persik juara, karena tim ini tertahan di babak 8 besar.

Musim 2006 kejayaan Persik kembali muncul. Peran para pemain asing Persik, Eby T. Sukore, Christian Gonzales, Danilo Fernando, dan Leonardo Gutierrez beenar-benar cukup penting.

Persik berhasil juara usai menang 1-0 atas PSIS Semarang. Kemenangan di Stadion Manahan Solo benar-benar dramatis, karena gol Gonzales tercipta di menit ke-109. Anak asuk Daniel Roekito berhasil berpesta di Kota Solo.

Setelah itu di musim Divisi Utama 2007, Persik malah harus puas tertahan di posisi 8 besar. Walau begitu tim ini lega karena berhasil promosi ke ISL edisi pertama. Musim tersebut jadi musim terakhir Divisi Utama jadi kasta tertinggi di Indonesia.

TERLEMPAR DARI KETATNYA KOMPETISI

ISL 2008/2009, Persik harus puas finis di posisi keempat dari 18 peserta. Dari 34 laga, Persik meraih 16 kemenangan, tujuh kali seri dan 11 kali menelan kekalahan.

Sayang performa Persik di musim ISL 2009/2010 benar-benar jeblok. Raihan 10 kemenangan, sembilan seri dan 15 kali kalah, membuat mereka terdegradasi ke Divisi Utama, bersama Persebaya Surabaya dan Persitara Jakarta Utara.

Sementara itu di kompetisi Divisi Utama 2010/2011, Persik hanya finis di osisi keenam dari 13 klub peserta babak penyisihan grup II. Dengan raihan 11 menang, tiga seri dan 10 kali kalah di 24 laga yang dijalaninya di musim tersebut.

Musim 2011/2012, ternyata ada dualisme kompetisi Divisi Utama karena konflik yang terjadi pada PSSI.

Persik akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Divisi Utama versi PT.LPIS. Di musim ini, Persik gagal di babak penyisihan.

musim berikutnya ternyata Persik pindah ke kompetisi Divisi Utama bentukan PT. LI. Persik sukses promosi.

Persik finis sebagai juara ketiga usai menang 6-3 atas Persikabo Bogor di Stadion Manahan Solo.

Kembali ke kasta tertinggi, sayang kejayaan Pesik untuk menjadi juara tak bisa kembali terjadi, di ISL 2014, Persik finis di posisi ke-8 grup barat, dengan raihan 6 menang, tiga seri dan 11 kali menelan kekalahan, dari 20 laga yang dijalani.

TERPURUK KARENA KESULITAN DANA

Pada 12 Desember 2014, Persik Kediri didiskualifikasi dari peserta ISL 2015. Itu karena dinilai tidak memenuhi persyaratan baik dari segi keuangan dan infrastruktur. Persik tak sendiri ada juga nama Persiwa Wamena yang jug atak lolos selama proses verifikasi pada bulan Desember 2014.

Kedua tim ini harus kembali bermain di Divisi Utama LI 2015. walaupun belakangan kompetisi ISL hanya bisa berjalan dua laga, dan Divisi Utama sama sekali belum menjalani kick offnya, hingga akhirnya muncul kabar kompetisi 2015 batal digelar karena pembekuan kompetisi oleh Menpora.

Tahun 2016 Dentama Ardiratna mencoba menghidupkan kembali Persik Kediri dengan serangkaian laga ujicoba.

PRESTASI MALAH MEROSOT

Kompetisi resmi kembali digulirkan pada musim 2017. Degradasi besar-besaran terjadi di musim Liga 2 2017, dan Persik jadi salah satu korbannya.

Di babak penyisihan grup 6 mereka finis id posisi ketiga, kalah posisi dari PS Mojokerto Putra dan Kalteng Putra yang sukses loloe ke babak selanjtnya dan terlepas dari jurang degradasi.

Posisi Persik membuat mereka harus berjuang di babak play off bersama PSBK Blitar, sementara Persewangi Banyuwangi, Perssu Real Madura dan Persida Sidoarjo sudah dipastikan terdegradasi.

Sayang kesempatan kedua di babak playoff tak bsa dimaksimalkan dengan mulus.

Ada di grup F, Persik harus finis di posisi ketiga dibawah PSIR Rembang yang bertahan, dan Takuhimo FC yang tetap gagal promosi karena tak bisa menjadi grup 2 terbaik.di grup play off ini, PS Timah Babel juga gagal bertahan. Dari 3 laga, Persik menang sekali, seri sekali, dan kalah sekali.

TAK BETAH DI KASTA KETIGA

Persik akhirnya membuktikan bahwa mereka layak berada di kasta terbaiknya. Macan Putih hanya satu musim di kasta ketiga. Di Liga 3 2018 Persik berhasil menjadi juara, usai menang agregat dari PSCS Cilacap 3-2.

Yakni unggul 3-1 dari Stadion Brawijaya Kediri (27/12/2018), dan kalah tipis 0-1 di Stadion Wijayakusuma Cilacap. Satu-atunya tim yang bisa mengalahkan Persik musim ini adalah PSCS dan itu terjadi di final leg kedua.

Bisa kembali ke Liga 2 dengan status juara Liga 3, membuat Persik tentu sangat diharapkan publik bisa bangkit untuk menuju ke kasta tertinggi.

Tak ada yang tak mungkin andai bisa dipersiapkan dengan matang jauh-jauh hari. Salah satu kuncinya adalah mendatangkan para pemain ternama bergabung dengan tim asal Jatim tersebut.