Suporter Kecewa dengan Hasil Kongres Tahunan PSSI

Kongres Tahunan PSSI yang digelar pada Minggu (20/1/2019) di Sofitel Bali, Nusa Dua, dinilai tidak melahirkan gebrakan baru. Dalam kongres tersebut, hanya ada keputusan Edy Rahmayadi mundur dari jabatan sebagai Ketum PSSI.

Para pemilik suara juga tidak bergerak nyata untuk menggelar Kongres Luar Biasa. Pembahasan mengenai pengaturan skor juga tidak signifikan.

Para suporter berbagai klub Indonesia, yang terdiri dari 14 elemen, ikut hadir dalam acara itu, namun hanya berada di luar hotel. Mereka menggelar aksi untuk karena kecewa dengan hasil kongres.

“Ini kegagalan secara organsasi dalam menata dirinya sendiri. Ada Komisi Disiplin, Komisi Etik, Komisi Wasit dan sebagainya, sebenarnya lembanganya lengkap. Tapi, tidak mampu menjalankan fungsinya semua,” kata Andie Peci, pentolan Bonek, kepada Bola.com.

“Voters juga tidak ada suara. Kami juga kecewa dengan mayoritas suara voters. Tidak ada kejelasan seperti apa soal KLB. Voters seolah hanya ingin jalan di tempat. Bisa dipastikan kalau hasil kongres begitu, tidak mau maju dengan lompatan-lompatan yang jelas,” imbuh Peci, yang melakukan orasi dalam aksi tersebut.

Salah satu hal yang dicetuskan PSSI dalam kongres kali ini adalah membentuk Komite Adhoc Integritas. Dalam rilis di situs resmi PSSI, mereka membentu lembaga itu untuk memerangi match fixing.

Sebagaimana diketahui, sebenarnya sudah ada lembaga yang memiliki tugas serupa di bawah arahan Polri yang bernama Satgas Anti Mafia Bola. Justru lembaga ini sudah bekerja dan menangkap beberapa orang terduga kasus pengaturan skor.

“Kami ingin kongres menghasilkan sesuatu yang konkret dalam situasi sepak bola nasional. Kami juga mendukung langkah Satgas Anti Mafia Bola karena memilih capaian yang baik. Kenyataannya dalam Kongres PSSI tidak dibahas. Itu artinya mereka (PSSI), mayoritas, anti terhadap Satgas Anti Mafia,” ucap Peci.