Kehilangan Ketua Umum, Komposisi Exco Tak Diubah di Kongres Tahunan PSSI

Anggota Komite Eksekutif (exco) PSSI diduga terlibat kasus dugaan pengaturan skor serta berkurang satu. Tapi, Kongres Tahunan PSSI tak mengubah komposisi exco.

PSSI menggelar Kongres Tahunan di Bali, Minggu (21/1/2019). Kongres itu ditandai dengan mundurnya pengunduran diri Edy Rahmayadi dari ketua umum PSSI. Pelaksana tugas (plt) ketum diserahkan kepada Joko Driyono dan Iwan Budianto dianggap menjadi wakil.

Selain itu, Kongres memutuskan dibentuknya Komite Ad Hoc Integritas. Kickoff Liga 1 dan Liga 2 juga ditetapkan mulai Mei.

Satu hal yang tak terjawab dalam Kongres justru mengenai pergantian atau pengangkatan anggota exco PSSI. Langkah itu sempat muncul sebelum Kongres setelah satu anggota exco, Johar Lin Eng, dijadikan tersangka kasus dugaan pengaturan skor. Selain itu, PSSI menyatakan Hidayat bersalah dengan dugaan serupa dan telah memberikan hukuman lewat Komisi Disiplin PSSI.

Selain itu, dengan mundurnya Edy dari ketua umum PSSI, anggota exco pun berkurang satu. Dalam Statuta PSSI, ketua umum otomatis menjadi ketua exco. Menurut Statuta, komite eksekutif diisi 15 anggota, yakni satu ketua umum, dua wakil ketua umum, dan 12 anggota.

Manajer Persatu Tuban, Fahmi Fakhroni, mengungkapkan tak ada pergantian anggota Exco di dalam kongres kemarin. PSSI mengumumkan jika akan diputuskan di dalam kongres selanjutnya.

“Setahu saya kemarin tidak ada agenda itu. Hanya membicarakan terkait pergantian pengunduran dirinya Pak Hidayat itu pun pergantiannya menunggu kongres selanjutnya,” ujar Fahmi Fakhroni kepada detikSport, Senin (21/1/2019).

“Kemarin yang terlibat kasus hukum akan diganti semua, dan ada usulan terkait Komdis, Komding serta Komisi Wasit untuk penyegaran. Tapi, tidak menyebut nama-nama. Kalau Komdis, Komisi Wasit, Komding secepatnya, kalau yang Exco menunggu Kongres selanjutnya,” dia menjelaskan.

Tapi, Fahmi mengaku belum mendapatkan kepastian terkait jadwal kongres PSSI selanjutnya. Rencana dibahas usai Pemilu.

“Soal kapan kongres saya belum tahu. Yang jelas menunggu setelah Pemilu,” katanya.

Melihat kasus pengaturan skor tersebut, Fahmi berharap tak terjadi lagi. Dia ingin kompetisi ke depan lebih bersih dan fair play.

“Saya sebagai pengelola sekaligus salah satu pemegang saham klub Persatu kami ingin kompetisi di Indonesia harus fair play tanpa ada pengaturan apapun, sehingga kami menyiapkan tim itu dengan enak. Semoga ke depan kompetisi di Indonesia semakin bagus tanpa ada pengaturan dan lain-lain,” dia menegaskan.