Sepi Prestasi Timnas Indonesia di Tengah Kemeriahan Kompetisi Liga 1

Kompetisi sepakbola tertinggi di Indonesia, atau yang musim ini bernama Gojek Liga 1 bersama Bukalapak sudah menyelesaikan pertandingan terakhir. Setelah menyelesaikan 34 pertandingan sejak Maret lalu, tim yang berhak menyandang gelar juara sudah bisa ditentukan. Begitu juga dua tim teratas dari divisi dibawahnya langsung promosi ke Liga 1 musim depan.

Liga 1, yang sebelumnya, Liga Super Indonesia, adalah liga profesional level teratas dalam sistem liga sepak bola di Indonesia. 18 klub bersaing untuk menjadi juara dengan sistem kompetisi promosi dan degradasi. PT Liga Indonesia Baru adalah operator resmi Liga 1 dengan masing-masing klub peserta sebagai pemegang saham utamanya.

Liga berlangsung dalam satu tahun (kalender) penuh sejak Maret sampai dengan Desember (semula dijadwalkan berakhir November). Total 34 pertandingan untuk setiap peserta liga yang dimainkan secara kandang dan tandang (home and away).

Kompetisi ini dibentuk oleh PSSI pada tahun 2008 sebagai perwujudan kompetisi profesional sepak bola pertama di Indonesia. Sebelumnya hanya berkompetisi secara amatir dan masih mengandalkan APBD sebagai modal berkompetisi. Sebanyak 32 klub telah berpartisipasi sejak musim perdananya pada tahun 2008.

Sepanjang kompetisi ini Liga 1 bergulir, banyak dinamika yang terjadi. Entah itu terkait dengan klub, pemain hingga jadwal kompetisi. Bahkan, PSSI di tengah perjalanan sempat memutuskan untuk menghentikan Liga 1 sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi menjelaskan, keputusan ini adalah bentuk keprihatinan PSSI atas tewasnya anggota The Jak Mania, Haringga Sirla, jelang pertandingan antara Persib Bandung dan Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung.

Belum lagi di akhir kompetisi, ramai dibicarakan soal match fixing mulai Liga 3, Liga 2, hingga pengaturan juara di Liga 1 2018.

Terlepas dari persoalan yang masih menghinggapi kompetisi di Indonesia, publik sepakbola juga masih membahas tentang kegagalan Timnas Indonesia.

Timnas Indonesia gagal di semua ajang yang diikuti pada 2018. Tim Merah-Putih terhenti di babak Grup Piala AFF 2018.

Selain Piala AFF, Indonesia juga terhenti di perempatfinal Piala Asia U-16 dan Piala Asia U-19. Sementara di Asian Games 2018, Garuda Muda tersingkir di babak 16 besar.

Banyak kalangan menilai mandeknya prestasi Timnas Indonesia masih terkait dengan belum beresnya penataan kompetisi atau tepatnya pembinaan sepakbola oleh federasi atau PSSI.

Ada anggapan PSSI selalu lebih menomorsatukan kompetisi di kasta tertinggi? Namun, mereka melupakan soal sepak bola usia dini dan usia muda.

Pengamat sepakbola Tommy Welly menegaskan betapa pentingnya kompetisi usia muda yang berjenjang dan berkesinambungan.

“Seberapa penting? Tentu sangat penting karena kompetisi usia muda adalah fondasi. Ini hal yang fundamental dalam pembinaan atau pengembangan sepakbola,” papar Tommy.

Menurut Tommy, PSSI harus memberi perhatian dan porsi besar dalam membangun kompetisi usia muda yang merata di seluruh daerah.

Kegagalan timnas Indonesia langsung mendapat perhatian Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. Ia meminta PSSI segera melakukan evaluasi.

“Saya berharap betul ketua umum (Edy Rachmayadi) untuk mengevaluasi ada apa di lingkungan internal organisasi federasi ini,” ujar Imam.

Tak hanya itu, Imam mengaku dirinya khawatir jika dalam kubu PSSI sudah mulai tidak sehat lagi. Dia menegaskan akan turun tangan untuk mengatasi polemik ini.

Sementara itu, Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi mengungkapkan kondisi realitas persepakbolaan Indonesia saat ini. Edy juga meminta masyarakat tidak lagi menyudutkan dirinya.

Menurutnya, kalau dibandingkan dengan negara lain, kondisi sepak bola Indonesia masih jauh tertinggal. “Kalau dibandingkan dengan negara lain, Indonesia masih jauh tertinggal. Bisa dilihat dari jumlah pemain, sarana stadion, dan lainnya. Saya bilang sama Presiden kalau kita belum punya pemain bola yang pas, kuantitas saja masih kurang, apalagi kualitas,” kata Edy.

Berdasarkan data 2016, jumlah pemain Indonesia sangat minim. Edy memcontohkan jumlah pemain Indonesia yang sangat jauh dengan Belanda yang memiliki 1,2 juta pemain dari 16,7 juta jiwa penduduk.

“Sementara, Indonesia hanya punya pemain 67 ribu dari 250 juta jiwa. Tolong jangan dibully-bully lagi saya. Kalau mau beritakan, beritakan lah ini,” katanya kepada para wartawan.

Bukan hanya itu, Edy juga mengatakan kondisi sarana dan prasarana sepak bola Indonesia kurang memadai. Salah satunya adalah soal kepemilikan stadion.

Karena itu, Edy berharap media memberi dukungan kepadanya untuk bersama memajukan PSSI. “Doakan lah kami. Kalau gak kalian yang bela saya, terus siapa yang bela saya?” tanyanya