Kompetisi Putri Belum Jelas, Zahra Pilih Main di Luar Negeri

Kompetisi sepakbola putri di Indonesia masih belum jelas terlaksana atau tidak. Hal itu membuat Zahra Muzdalifah berencana ke luar negeri saja.

Sepakbola Indonesia masih punya banyak PR. Selain di sektor putra yang njelimet dengan berbagai macam masalah, sepakbola putri seolah terlantar.

Sejauh ini, belum ada kompetisi reguler khusus putri yang digelar. PSSI sendiri baru sekadar mewacanakan, dan sejauh ini belum ada tanda-tanda bakal menggelarnya.

Hal itu yang dipikirkan Zahra Muzdalifah, gelandang timnas putri Indonesia. Sadar sepakbola putri masih dianaktirikan, gadis berusia 17 tahun itu berencana trial ke luar negeri saja.

“Ya memang (kompetisinya tidak ada). Ini saja katanya tahun depan janji liganya jalan, tapi masih samar-samar. Belum lagi PSSI-nya lagi begini,” kata Zahra, merujuk kinerja PSSI yang belakangan ini banyak dipertanyakan masyarakat.

“Tapi saya ada rencana trial keluar. Saya tak bisa bilang tepatnya kapan, tahun depan, cuma jika tidak dicoba kapan lagi,” ungkap Zahra, tanpa mau menjelaskan detail ke mana ia akan menempa bakatnya.

Zahra sendiri salah satu langganan timnas putri Indonesia. Dia sering mengisi berbagai turnamen, di antaranya ajang Nasional AIA Championship For Women, yang berlangsung awal Desember ini.

Ajang yang kali pertama digelar AIA dengan kampanye kesetaraan gender itu diikuti 16 tim dari berbagai daerah di Indonesia. Termasuk di antaranya adalah Jakarta 69A, klub Zahra.

Di ajang itu, Zahra terpilih sebagai salah satu pemain yang akan dikirim ke kompetisi regional AIA Championship di Bangkok pada Maret 2019. Total ada 16 pesepakbola putri Indonesia yang diterbangkan ke Thailand.

Zahra melanjutkan, trial ke luar negeri bakal menjadi kesempatannya untuk mengembangkan bakatnya. Ia menilai, pengembangan sepakbola putri di luar negeri tentu lebih baik dari Indonesia.

“Sekarang coba dulu, hasil belakangan, yah mumpung masih muda. Lihat saja pemain luar bagaimana, kan beda. Kalau di luar pakai strategi, sementara di sini pakai otot. Tapi yang paling penting dapat pengalaman dan mental, pasti teruji banget di sana,” ungkap Zahra, yang masih berstatus mahasiswi tersebut.