Puncak Liga 2 Dihiasi Kerusuhan, PT LIB: Keamanan Sudah Sesuai Standar

Panasnya persaingan di perebutan satu tiket promosi tersisa memang tak bisa dihindarkan lagi saat Kalteng Putra bertemu Persita Tangerang, Selasa (4/12). Namun, saat kericuhan muncul, pihak keamanan terkesan lambat melakukan antisipasi.

Saat terjadi insiden penonton menyerbu lapangan di tengah pertandingan, pihak keamanan tidak mampu membendungnya. Akibatnya, para oknum suporter ini bisa leluasa melampiaskan amarahnya. Sejumlah fasilitas stadion seperti e-board pinggir lapangan, bangku pengawas pertandingan, hingga bench Kalteng Putra menjadi sasaran amuk massa.

Tidak hanya perusakan. Oknum suporter juga sempat memukul kitman dan fisioterapis Kalteng Putra dengan balok kayu. Mereka juga merobek spanduk dukungan Kalteng Putra di sisi selatan. Nah, saat situasi mulai panas, barulah puluhan polisi memakai tameng masuk dan bisa mengendalikan situasi.

Padahal, jika panpel dan keamanan tanggap, sinyal kerusuhan sudah terlihat sejak babak pertama. Ribuan suporter Persita yang berada di sisi utara sudah menyalakan flare, smoke bomb, dan kembang api. Mereka kecewa lantaran timnya tertinggal dua gol.

Kerusuhan ini sangat disesalkan kubu Kalteng Putra. Asisten Manajer Kalteng Putra Sigit Widodo menilai, harusnya PT LIB selaku operator sudah siap dengan situasi seperti itu.

’’Kan mereka isinya orang hebat semua. Ketika di daerah mereka ngatur-ngatur pengamanan harus begitu begini. Tapi ini lihat, ternyata kebobolan toh,’’ kecam Sigit.

Apakah peristiwa itu bakal dilaporkan? Sigit menganggap hal itu tidak perlu.’’Ngapain kami repot-repot melaporkan. Tenang, kami sudah lolos,’’ paparnya.

Dari pantauan Jawa Pos, pihak kepolisian memang tidak terlihat di area dalam stadion. Hanya ada steward atau pihak keamanan swasta yang berjaga memutar di area sentleban. Jumlahnya pun hanya puluhan saja.

Menanggapi hal itu, Chief Operation Officer PT LIB Tigor Shalomboboy berdalih tidak adanya polisi di dalam stadion sudah sesuai standar yang diterapkan sejak Piala AFC U-19. “Harapannya, agar penonton merasa nyaman. Mereka ingin menonton. Kalau ada polisi di dalam stadion kan seolah-olah situasinya mencekam,” terangnya.

Itu sebabnya, polisi ditempatkan di luar stadion. Namun untuk kondisi tertentu, mereka siap masuk ke stadion. “Tadi kan penanganannya lumayan cepat juga, meski kami akui lalai, ” imbuhnya.

Tigor mengungkapkan untuk perebutan tempat ketiga pihaknya sudah meminta 1.000 personel kepolisian. Itu belum termasuk 200 personel gabungan. “Jadi saya pikir jumlah itu mencukupi,”ujarnya.

Apa lacur, keamanan tidak sigap. Sehingga kerusuhan pun terlanjur pecah di tengah pertandingan. Ini menjadi noda dari gelaran Liga 2 2018 yang sudah diwarnai isu pengaturan skor.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*