Kepada Exco: Bukan Cuma Edy, Kalian Juga Harus Bertanggung Jawab!

Asprov PSSI Jawa Barat meminta Komite Eksekutif PSSI untuk turut bertanggung jawab atas kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF 2018. Jangan lempar batu sembunyi tangan.

Timnas Indonesia tersingkir dini di Piala AFF 2018. Kegagalan ini menjadi kali keempat sepanjang keikutsertaan timnas di kompetisi Asia Tenggara itu.

Di saat bersamaan, liga bergulir dan memunculkan dugaan pengaturan skor. Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, pun dianggap tidak mampu mengemban jabatannya, apalagi setelah rangkap jabatan menjadi Gubernur Sumatera Utara.

Situasi ini pun memantik amarah suporter dan publik akan bobroknya federasi sepakbola Indonesia. Ketua Umum Asprov PSSI Jawa Barat, Tommy Apriantono, mengakui situasi itu. Tapi, dia berpendapat kondisi tersebut bukan karena Edy semata.

“Sebetulnya, kegagalan Timnas memang Ketum bertanggung jawab, tapi itu tidak hanya dia. Komite Eksekutif keseluruhan juga harus bertanggungjawab. Karena di dalam Komite Eksekutif ada yang bertanggung jawab tentang Timnas dan kompetisi.

Nah, ini yang harus diperbaiki adalah cara kerja di Exco. Tapi, selama ini, sepertinya Komite Eksekutif takut dengan Ketum,” kata Tommy kepada detikSport, Senin (26/11/2018).

“Ini masalah match fixing saja belum keluar statement-nya dari PSSI. Kan harusnya pertama LIB beri jawaban, kedua Exco bidang kompetisi, karena kalau dibiarkan tak akan ada sponsor, kalau tak ada sponsor dari mana dananya? Bantuan FIFA juga tak banyak, harusnya dari bisnis itu digali oleh liga,” ujarnya kemudian.

“Nah, itu yang harus dilakukan Exco dan jajaran PSSI mendampingi ketua ketika ada pertanyaan-pertanyaan publik dan media. Masalah wartawan baik ada enggak hubungan Timnas kan enggak ada?” ujar dia.

“Termasuk misalnya sekarang PSSI kan enggak pernah terbuka termasuk ke voter bagaimana pengelolaan, berapa pemasukan, dulu kan dijanjikan asprov dapat bantuan tapi Rp 200 juta. Saya pribadi tak pernah menanyakan tapi harusnya ada permintaan maaf kalau enggak punya. Ibaratnya harus transparan,” Tommy menegaskan.

Seiring masalah-masalah itu, Edy pun dituntut untuk mundur. Tommy menyarankan harusnya tuntutan itu dijadikan satu paket dengan Exco.

“Itu kan bagian. Artinya, kalau Bapak Edy salah kenapa Exco tak mengingatkan. Kan ada rapat tahunan walaupun katanya tak hadir, harusnya kan diingatkan. Kan menentukan Luis Milla sama-sama, Bima Dakti sama-sama. Ini kan tak ada Exco tak bersuara,” katanya.

“Jangan sampai Bapak Edy diserang Exco berlindung. Bahkan, di antara mereka sendiri menyerang, tapi lewat tangan lain, termasuk bisa saja lewat suporter,” ujar dosen ITB ini.

“Saya bacalah komentar Gusti Randa (Exco) kenapa dia dari dulu tak ada action. Kenapa enggak dari dulu, harusnya jauh jauh hari kejadian salah diingatkan. Harus bagian bertanggung jawab termasuk bagian bertanggung jawab ingatkan pak Edy,” tutur Tommy.

“Memang Bapak Edy salah komunikasinya, tapi Exco juga harus ingatkan. Kalau tak didengarkan ngomong dong. Jangan pak Edy lagi digebukin, dia ikut gebukin juga. Itu kan tak etis. Kalau mau dari awal bicara. Itu yang kami harapkan. Jangan lempar batu sembunyi tangan,” ujar dia.

“Timnas itu hanya ujung tombak. Sekarang pembinaan usia muda seperti apa. Luis milla tak jadi pelatih lagi kan tidak pernah terbuka. Kalau tak punya uang kan ada liga, kok bisa liga tak memasukkan uang. Itu kan harus transparan. Jadi komprehensif evaluasinya,” dia menyarankan.