Tim Indonesia Targetkan Masuk 10 Besar Homeless World Cup 2018

Peluang tim Indonesia untuk bersaing memperebutkan Homeless World Cup (HWC) 2018 pupus. Dalam penyisihan grup babak II, tim asuhan Aulia Rahman hanya menempati posisi tiga grup B di bawah Brazil dan Afrika Selatan.

Tim Indonesia meraih tujuh poin dari lima kali pertandingan, dua kali menang, dua kali kalah, dan satu kali kalah adu penalti. Kemenangan mendapat poin tiga, sementara kalah penalti mendapat satu poin. Sementara Brazil mencatatkan 14 poin hasil empat kali menang dan satu kali menang adu penalti. Afrika Selatan berada di bawahnya dengan 13 poin.

Meski demikian, Aulia memaparkan, timnya masih berpeluang mengakhiri kompetisi street soccer— bagi kalangan tuna wisma dan kelompok termajinalkan—dengan meraih Fundación Carlos Slim Trophy. Tim-tim yang bertanding untuk memperebutkan trophy HWC dipastikan meraih ranking 1-8. Sementara Fundación Carlos Slim Trophy diperebutkan oleh ranking 9-16.

“Kita kehilangan poin di pertandingan yang seharusnya bisa mendapatkan poin penuh,” kata Aulia saat briefing bersama timnya di Best Western Estoril Hotel, Mexico City, Jumat (16/11/2018) malam waktu setempat, seperti dikutip dari siaran pers tim.

Guna mewujudkan target berakhir di posisi 9, Aulia meminta anak-anak asuhnya tetap fokus dan konsentrasi dalam pertandingan melawan Peru pada Sabtu, 17 November 2018. Apabila menang melawan Peru, maka Dego Z. Arifin dan kawan-kawan bakal menghadapi pemenang dari pertandingan antara Bulgaria melawan Austria.

“Walau bukan Homeless World Cup, pilihannya menang dalam setiap pertandingan. Sehingga setidaknya bisa berakhir di posisi sembilan. Selama ini tim Indonesia selalu berada dalam posisi sepuluh besar,” imbuh Aulia.

Dari tiga pertandingan yang mereka jalani pada Jumat, 16 November 2018, tim Indonesia hanya meraih dua kemenangan. Masing-masing atas Norwegia dengan skor akhir 4-3 dan Zimbabwe dengan skor 9-4.

Permainan tim Indonesia tampak lebih baik dalam pertandingan melawan Zimbabwe yang merupakan penutup di sesi grup. Setiap pemain yang diturunkan dapat memperlihatkan determinasi yang tidak seperti biasanya. Mereka tampil tenang dan percaya diri. “Karena memang sudah tidak ada beban,” kata Yandi Abdul Rajab, pemain yang mencetak dua gol dalam pertandingan itu.

Satu-satunya perempuan dalam tim campuran ini, Eva Dewi Rahmadiani juga berkesempatan merasakan atmosfer pertandingan tersebut. Kontribusinya terbilang efektif untuk menjauhkan bola dari pertahanan tim Indonesia.

Hal ini sangat jauh berbeda dibandingkan penampilan melawan Afrika Selatan. Pola serangan Indonesia yang dibangun bersama-sama dengan kiper seringkali kandas karena tekanan dan penjagaan pemain Afrika Selatan.

Tim Indonesia butuh waktu lima menit untuk bisa menyarangkan gol lewat tendangan Yandi Abdul Rajab. Namun pada saat bersamaan, Indonesia sudah tertinggal dua gol. Memasuki tujuh menit ke-dua, alih-alih memperkecil selisih golnya, tim Indonesia malah terus kebobolan hingga akhirnya kalah 1-5 dari Afrika Selatan.

Kondisi serupa terjadi saat Indonesia menghadapi Norwegia. Selepas kebobolan oleh Rizal Ferdian Somawijaya, tim Norwegia bisa langsung menyamainya menjadi 1-1 hingga babak pertama usai.

Memasuki babak dua, tim Denmark berupaya keras mencari peluang menyamakan kedudukan. Satu menit usai turun minum, Norwegia sukses menyamainya. Pertandingan berakhir dengan kemenangan untuk Indonesia dengan skor 4-3. (Iman Herdiana)