Soal Wasit Kontroversial, Ada Beda Pendapat di PSSI

Putusan kontroversial wasit Agung Setiawan dalam laga PSS Sleman vs Madura FC tampaknya akan berujung buruk bagi dirinya. Komite Wasit saat ini tengah menimbang sanksi yang pantas diberikan kepada Agung. Untuk sementara dirinya dibebastugaskan dari memimpin pertandingan.

Laga antara PSS versus Madura FC, Selasa (6/11) kemarin memang tengah menjadi sorotan publik. Pasalnya, gol bunuh diri pemain Madura diawali dengan sebuah umpan pemain PSS yang sudah lebih dili berada dalam posisi offside.

Agung Setiawan merupakan wasit pengganti M. Reza Pahlevi yang mengalami cedera di tengah pertandingan. Untuk saat ini, dua wasit yang bersangkutan bakal ditepikan alias tidak akan diberi tugas memimpin pertandingan Liga 2 hingga putusan resmi akan keluar. Demikian pula dengan perangkat pertandingan yang lain, asisten wasit 1 dan 2.

Hal ini ditegaskan Purwanto, anggota komite wasit PSSI ketika dikonfirmasi Rabu (7/11) kemarin. Menurut Purwanto, dalam tayangan ulang, posisi pemain PSS Sleman, M. Ilhamul Irhaz memang sudah offside saat menerima umpan terobosan dari Slamet Budiono.

Sedangkan umpan crossing Irhaz berbuah gol bunuh diri setelah Choriul Rifan salah mengantisipasi bola. “Sebaiknya memang nggak ditugaskan dahulu. Belum tahu sampai kapan,” terang Purwanto.

Beberapa kejadian yang janggal menjadi catatan mantan wasit di Liga Indonesia itu. Purwanto menyebut proses pergantian wasit juga memakan waktu yang cukup lama. “Seharusnya wasit yang diganti nggak boleh duduk di bangku fourth official juga, kalau memang cedera,” beber pria asal Kediri tersebut.

Dihubungi terpisah, Yandri, anggota Departemen Wasit PSSI punya pendapat sedikit berbeda. Kejadian di Sleman memang agak berbeda. Menurutnya, kondisi Reza setelah kejadian juga bisa berdiri dan kondisi di bangku fourth official harus ada yang mengisi.

Sehingga Reza pun kemudian duduk di bangku tersebut untuk mengisi kekosongan. ”Sementara kalau menunggu wasit cadangan yang lain butuh waktu lama lagi,” sebut Yandri.

Meskipun belum diputuskan hukuman secara resmi, kejadian serupa rawan kembali terjadi di babak 8 besar Liga 2 2018. Terlebih, ketika memasuki momen-momen krusial bagi klub peserta untuk lolos promosi ke Liga 1 musim depan.