Dianggap Dibantu Wasit, PSS: Kami Pernah ‘Dikerjai’ di Madura

Pertandingan pekan ke-3 babak 8 besar antara PSS Sleman vs Madura FC memang berujung polemik yang cukup panas. Dalam laga tersebut, PSS mampu meraih kemenangan melalui gol bunuh diri pemain Madura FC.

Nah, hal yang menjadi kontroversi adalah proses terciptanya gol tersebut. Gol bunuh diri Choriul Rifan yang salah mengantisipasi umpan silang M. Ilhamul Irhaz dinilai tidak sah. Karena Irhaz sebelum mengirim umpan silang sudah berada dalam posisi offside, saat menerima umpan terobosan dari Slamet Budiono.

Menanggapi gol kontroversial tersebut, pihak PSS Sleman enggan berkomentar banyak. Manajer PSS, Sismantoro mempersilakan kalau pihak Madura FC akan melayangkan protes terkait hasil pertandingan Selasa (6/11) kemarin.

Namun, Sismantoro mengingatkan kepada pihak terkait untuk selalu bertindak objektif. Karena PSS pun pernah menjadi korban dari putusan wasit yang janggal dan keliru. Seperti saat kalah di kandang Persiraja Banda Aceh di pekan ke-2 babak 8 besar. Pun ketika bermain di kandang Madura FC.

“Kalau memang Madura FC layangkan protes, ya kami harap semua harus objektif. Kami pernah dikerjai di Madura,” tegasnya.

Sementara soal kejadian suporter Sleman yang turun ke lapangan diakui Sismantoro juga karena mendapat provokasi dari pemain Madura FC. Suporter terpancing oleh tindakan buruk tim lawan kepada mereka.

“Mereka (Madura FC) mengacungkan tangan dan meludah ke arah suporter. Selain itu, pemain Madura FC juga meludah ke arah panpel. Makanya ada panpel yang melakukan pemukulan ke pemain (Madura FC),” sebutnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*