Liga 1 Elite Pro Academy U-16 dan Gangguan Ketidakpastian Masa Depan

Sejumlah klub kontestan Elite Pro Academy U-16 2018 ternyata tak bisa menjawab pertanyaan soal masa depan bila tim senior mereka terdegradasi dari kasta teratas. Apakah mereka tetap hidup atau dibubarkan?

Selepas membawa tim Pagaralam menjuarai cabang sepak bola di Porprov Sumatera Selatan pada akhir November tahun lalu, Fauzi Toldo dipercaya menangani Sriwijaya FC di Liga 1 Elite Pro Academy U-16 2018.

Bukan tanpa alasan hingga Fauzi menerima penunjukan itu.

“Sebagai mantan pemain liga asli dari Palembang, saya ingin mencari penerus. Itu yang membuat kami tetap pada komitmen memakai pemain lokal kendati banyak yang menawarkan pemain muda dari luar Sumsel,” katanya kepada Tabloid BOLA dan BolaSport.com.

Lelaki 36 tahun yang pernah menjadi kiper Sriwijaya FC pada musim 2005-2006 dan 2013-2014 itu memang tak mau muluk-muluk menjadi tim terbaik di Liga 1 U-16 musim ini.

Diperkuat mayoritas pemain U-15, Fauzi sekadar menargetkan tim asuhannya lolos dari fase grup. Masa persiapan yang relatif ideal jadi alasannya.

“Tim ini dibentuk 5 bulan lalu. Para pemain merupakan hasil seleksi dari SSB di Sumatera Selatan dan semuanya merupakan talenta lokal,” ujar Fauzi kepada BOLA.

Periode lima bulan itu bisa dibilang sebagai kemewahan bagi Sriwijaya FC U-16.

Sejumlah kontestan Liga 1 Elite Pro Academy U-16 2018 ternyata baru dibentuk menjelang Festival Filanesia yang dihelat PSSI pada Juli silam, termasuk klub yang dikenal punya akademi junior oke seperti Persib dan Arema FC.

“Persib U-16 terbentuk secara khusus dari Festival Filanesia. Kami menggelar persiapan selama 40 hari sebelum terjun di kompetisi dan tim ini memang dibentuk khusus untuk Liga 1 U-16,” ujar pelatih Persib U-16, Kartono Pramdan.

Doni Suherman, pelatih Arema FC U-16 mengeluarkan pernyataan senada.

“Persiapan untuk Liga 1 U-16 dilakukan sejak Festival Filanesia lalu,” katanya.

Tim-tim lain setali tiga uang. Pelatih PSIS Semarang U-16, Eko Riyadi, menyebut tim asuhannya baru dibentuk pada 2-3 bulan silam seiring tersiarnya kabar bahwa PSSI akan menggelar kompetisi U-16.

Para pemain yang dimiliki Eko saat ini didapat lewat seleksi dari SSB dan klub di Semarang.

Begitu juga dengan Madura United U-16.

“Tim ini dibentuk sepekan sebelum Festival Filanesia. Memang mendadak,” tutur sang pelatih, Supriyanto, yang mendapat pemain setelah menyeleksi 420 pemain dari keempat kabupaten di Madura.

Cari Sponsor

Walau demikian, periode persiapan ini nyatanya tak terlalu memusingkan pelatih. Terlebih bagi PSIS U-16, yang mengaku tak punya target muluk.

“Yang penting bagi saya adalah anak-anak bermain dengan gembira dan menikmati permainan. Bila mereka tidak tertekan, hasil akan mengikuti,” ucap Eko.

Sang pelatih bisa jadi lebih gundah dengan ketidakpastian tim asuhannya. Sejauh ini, kewajiban memiliki tim Elite Pro Academy hanya dibebankan pada klub Liga 1.

Adapun saat ini tim senior PSIS berada di papan bawah dan belum juga lepas dari daftar kandidat degradasi.

“Kalau tim senior terdegradasi, nasib tim U-16 tergantung pada manajemen. Belum ada pembicaraan karena kami yakin PSIS bisa bertahan di Liga 1 musim depan,” tutur Eko.

Kegundahan serupa boleh jadi ada di kepala Supriyanto.

“Tidak tahu juga masa depan tim Madura United U-16 ini. Tetapi, saya tidak mau berpikir terlalu jauh,” ujarnya saat dihadapkan pada kemungkinan Achsanul Qosasi, pemilik Madura United, tak lagi bisa berkonsentrasi pada pembinaan sepak bola di Madura.

Bila Eko dan Supriyanto terkesan pasrah, tidak demikian dengan Fauzi. Ia menyebut sudah menyiapkan alternatif bila Laskar Wong Kito, yang juga berada di papan bahwa klasemen sementara Liga 1 2018, terdegradasi.

“Bila Sriwijaya terdegradasi, kami sudah menyiapkan langkah lain. Kami cari sponsor lain untuk tetap hidup. Sriwijaya dikelola PT SOM, sponsor tidak bisa masuk. Namun, sponsor masuk lewat Forum Pembinaan Sepak Bola di Sumsel,” katanya.

Tentu sayang bila tim U-16 ini dibubarkan. Antusiasme masyarakat ternyata tinggi, stadion penuh dengan kehadiran keluarga dan teman-teman pemain. Tim ini punya prospek bagus untuk munculkan talenta lokal,” ucap Fauzi.

Mungkin, hanya segelintir yang punya keyakinan seperti Doni.

“Akademi Arema U-16 akan tetap ada meskipun Arema FC terdegradasi. Kami tetap komitmen dengan pembinaan usia muda. Buktinya, pemain di tim Arema FC U-16 saat ini berasal dari akademi internal,” tuturnya.

“Inilah yang membedakan Arema FC U-16 dengan sejumlah tim lain yang sampai menggelar seleksi untuk membentuk tim. Kami juga punya target juara, tetapi kami percaya diri dengan menggunakan kekuatan pemain binaan sendiri,” kata Doni.

Sementara itu, Direktur Teknik PSSI, Danurwindo, menyebut bahwa setiap klub yang saat ini berada di kasta tertinggi tak semestinya membubarkan tim U-16 miliknya bila terdegradasi di akhir musim.

“Bila ada klub Liga 1 yang terdegradasi dan membubarkan tim U-16 miliknya, berarti klub itu memang tidak memiliki rencana yang jelas. Apalagi nantinya, klub Liga 2 juga mesti memiliki Elite Academy,” ujar Danurwindo.