Gala Siswa Indonesia: 612 Pesepak Bola Belia Berebut Tiket Latihan di Juventus

Turnamen sepak bola akbar Gala Siswa Indonesia (GSI) untuk sekolah menengah pertama (SMP) memasuki putaran nasional. Kick-off akan dimulai hari ini di Stadion Soemantri Brojonegoro, Jakarta Selatan. Putaran final diikuti 612 siswa dari 33 provinsi Indonesia.

Sebelum melangkah ke tingkat nasional, GSI diikuti 2.872 kecamatan, 257 kabupaten/kota, dengan jumlah peserta 11.435 sekolah, masing-masing tim 18 orang, dan pendamping empat orang.

Jumlah pertandingan GSI yang telah digelar untuk tingkat kecamatan sebanyak 2.588 pertandingan dan tingkat kabupaten/kota 737 pertandingan.

Sedangkan pada tingkat provinsi sebanyak 165 pertandingan. Sehingga total pertandingan GSI yang telah digelar di 34 provinsi mencapai 3.490 pertandingan.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemdikbud Hamid Muhammad menjelaskan, pemerintah sudah menyiapkan hadiah khusus bagi tim yang memenangkan GSI.

“Desember ini pembinaan ke Juventus. Mudah-mudahan bisa terwujud,” kata Hamid dalam konferensi pers Gala Siswa Indonesia di Kantor Kemdikbud Jakarta.

Perintis GSI, Supriano menjelaskan alasan memilih Juventus sebagai klub tujuan tur pemenang GSI. Menurut dia, awalnya Kemdikbud telah memilih sejumlah klub elit Eropa, salah satunya Manchester United. Namun karena sempitnya waktu pendaftaran, yang tersisa tinggal Juventus.

“Di sana mareka akan berlatih dengan standar dan melakukan uji coba dengan tim juniornya,” tambah Supriono dalam rilis yang diterima Bola.com.

Sedangkan Pelatih Timnas Indonesia U-19, Indra Sjafri yang juga duta GSI mengatakan pengembangan sepak bola negara-negara berkembang melalui dua jalur yakni prestasi dan pendidikan.

Di Jepang, yang bagus itu dari jalur pendidikan. Sjafri menambahkan, di level usia muda, paling penting bukan menghasilkan trofi tapi membangun individu terbaik. Dia juga menganggap, Gala Siswa Indonesia sebagai terobosan karena event dimulai dari kecamatan membuat talenta yang terpatau tidak hanya dari kota tapi juga desa.

Ditambah lagi, mereka yang lolos bukan dipilih berdasarkan timnya, tapi dari individu individu terbaik dari masing-masing daerah. Penilaian kualitas pemain berdasarkan hasil pemandu bakat yang bekerja mulai daerah. Sedangkan di tingkat nasional, pemandu bakat diisi mantan pemain timnas dan akademisi. “Jadi tidak aka nada dusta di antara kita,” kata Indra.