Yuli Sumpil Kena Sanksi, Akmal Marhali: PSSI Jangan Sekadar Pencitraan!

Lagi dan lagi, sepak bola yang pada hakikatnya diciptakan untuk menyatukan malah disalahgunakan. Belum lama kabar duka tentang kematian Jakmania, Haringga, nama sepak bola Indonesia kembali tercela.

Pasalnya dedengkot Aremania, Yuli Sumpil serta rekannya Fandy berulah pada laga Arema FC vs Persebaya Surabaya yang dilangsungkan di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Melakukan provokasi keras sampai turun ke lapangan sebelum pertandingan dimulai membuat Yuli Sumpil dan Fady dijatuhi hukuman larangan masuk stadion seumur hidup oleh Komisi Disiplin (Komdis) PSSI yang telah dirilis Kamis (11/10/18).

Kerusuhan yang dilakukan oleh pentolan Aremania ini menjadi sorotan banyak pihak, salah satunya Akmal Marhali yang merupakan koordinator Save Our Soccer.

Ditanyai mengenai hukuman yang diberi kepada suporter anarkis, Akmal merasa bahwa segala putusan Komdis harus dihargai. Ia menganggap putusan yang diberikan Komdis PSSI pun sudah merupakan keputusan yang terbaik.

Semua suporter atau pihak yang melanggar aturan wajib dikenai sanksi, dari kejadian seperti inipun hikmah seharusnya dapat diambil untuk tidak melakukan perlakuan kasar secara verbal maupun non-verbal.

“Dan kalau keputusan ini menjadi keputusan tetap, yang saya khawatirkan nanti justru ada posisi-posisi di mana di sisi lain akhirnya bisa dinegoisasi di komite banding yang selama ini bisa dilakukan dan selama ini menjadi kebiasaan di dalam sepak bola kita,” jelas Akmal Marhali.

Komdis Jangan Cuma Pencitraan
Bagi Akmal, pelanggaran keras harus setimpal dengan hukuman yang keras pula. Hukuman dilarang untuk menonton pertandingan seumur hidup terdengar berat. Tapi, adakah jaminan untuk tidak adanya korban yang berjatuhan kembali?

Koordinator Save Our Soccer ini menjelaskan bahwa belum adanya regulasi yang mengatur hal seperti ini di Indonesia. Yuli Sumpil dan rekannya pun belum mempunyai jaminan apakah dirinya benar- benar tidak akan pernah bisa menonton sepak bola Indonesia lagi.

Sepak bola Indonesia mungkin bisa mencontoh Inggris yang setiap pendukungnya telah memiliki kartu anggota. Bila si suporter dalam daftar terhukum, ia tidak akan bisa membeli tiket karena namanya sudah tercantum dalam daftar yang telah melanggar peraturan. Caranya bagaimana yang masih menjadi tanda tanya serta PR untuk Indonesia.

Ditanyai tentang seberapa efektifkah hukuman yang diberikan, Akmal merasa bahwa ini akan efektif jikalau ada efek jera.

“Harus dibuat efektif agar ada efek jera. Ini tugas dari Komdis PSSI selain menjatuhkan hukuman juga memberikan pengawasan yang ketat terhadap mereka yang dijatuhi hukuman. Jangan sampai ini hanya sekedar pencitraan dan bumbu- bumbu saja yang selama ini dilakukan oleh PSSI.”

“Jadi bagaimana kemudian identifikasi dan juga pengawalan dari sanksi yang dijatuhkan ini menjadi efektif dan benar benar-benar dapat memberikan efek jera bagi seluruh suporter sepak bola. Tidak boleh ada lagi yang menyanyikan lagu- lagu berbau anarkis, apalagi mereka yang bertindak sebagai kepala supporter.” lanjunya lagi.

Ditanyai tentang mengapa sanksi telah diberikan tetapi korban tetap berjatuhan, Akmal menanggapi hal ini merupakan kurangnya wibawa PSSI.

“Saya pikir itu sudah merupakan hukuman yang pantas. Yang menjadi masalah adalah di Indonesia ini hukuman yang telah dijatuhkan kadang bisa ditawar lagi dinegoisasi di komite banding yang kemudian menjadi salah satu penyabab kurangnya wibawa pada badan hukum di sepak bola Indonesia,” jelas Akmal.