Wakil Ketua Komdis PSSI Soroti Panpel Persib Soal Laga Lawan Persija

Wakil Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, Umar Husein mengatakan sedang mencari tahu terkait pertimbangan Panpel Persib Bandung tetap menggelar laga kontra Persija Jakarta, 23 September lalu.

Sebelumnya, pihak Kepolisian melalui Polrestabes Bandung meminta Persib untuk memundurkan pertandingan melawan Persija menjadi 25 September. Hal itu menyusul faktor keamanan Kota Bandung.

Namun, baik Panpel Persib dan Polrestabes Bandung menyetujui pertandingan tetap digelar pada jadwal semula, 23 September. Sayangnya, tetap digelarnya laga klasik itu malah menimbulkan korban jiwa.

Pendukung Persija, Haringga Sirila merenggang nyawa usai dikeroyok oknum bobotoh di sekitaran Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Kini PSSI melalui tim investigasi pun mencari fakta dan data dari panpel Persib.

“Semula kita pertimbangkan, itu kan jadi ranah panpel kenapa tidak merespons secara positif apa yang sudah direkomendasikan pihak keamanan sebelumnya,” ujar Umar Husein di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (29/8/2018).

“Berkembang mulai dua hari sebelum pertandingan rapat terus tidak sesederhana itu. Kalau panpel ikutin arahan polisi, biasanya aman. Nah kemarin tidak tahu kenapa kok tidak dituruti. Kenapa tidak turuti rekomendasinya polisi. Polisi kan lebih tahu,” lanjut Umar.

Umar menambahkan bahwa kasus tersebut berbeda dengan pertandingan Persija Jakarta melawan Persebaya Surabaya di Bantul. Saat itu juga terjadi kerusuhan tapi laga langsung dihentikan oleh pihak keamanan.

“Beda dengan yang terjadi di Yogyakarta saat Persija melawan Persebaya. Ada kerusuhan dan tidak ada korban karena pihak keamanan langsung memutuskan tak boleh melanjutkan pertandingan,” tambahnya.

Saat ini Tim Investigasi yang dipimpin Gusti Randa sedang mengumpulkan data dan fakta. Hasil tersebut baru diserahkan kepada Komdis untuk bahan pertimbangan dalam sidang keputusan.

PSSI pun memastikan paling lambat hari Rabu sanksi tegas untuk klub yang melanggar regulasi sudah bisa diputuskan ke publik.