PSSI Rombak Komisi Disiplin

Tragedi tewasnya suporter Persija Harlingga Sirla akibat dikeroyok pendukung Persib Bandung menjadi momentum perbaikan bagi PSSI. Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjadi salah satu yang paling disorot publik sepak bola tanah air.

Karena itu, rencana PSSI untuk merombak beberapa komisi mendapatkan sambutan positif dari beberapa klub Liga 1. Mereka berharap, dengan perubahan itu bisa membuat kinerja Komdis yang selama ini sangat krusial menjadi lebih baik dan adil kepada setiap klub.

Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono mengatakan, ditundanya Liga 1 ini bisa menjadi momen mencari sosok pengganti di komisi-komisi. ’’PSSI selama ini dinilai tidak transparan dalam memutuskan suatu hal. Jadi, PSSI akan cari tenaga-tenaga ahli untuk mengisi posisi tersebut,’’ jelasnya.

Selain Komdis, Komisi Banding dan Komisi Wasit juga akan terjadi perombakan. Menurut Jokdri, itu sesuai dengan amanat Kongres PSSI pada Januari lalu. ’’PSSI membaca dan mendengar masukan, juga kritik dari klub bahkan publik terhadap jalannya kompetisi. Khususnya penegakan disiplin dan kinerja wasit,’’ tegasnya.

Terkait dengan kemungkinan perombakan komposisi itu, beberapa petinggi klub Liga 1 menanggapinya dengan positif. Haruna Soemitro, manajer Madura United, mengatakan bahwa Komdis PSSI merupakan lembaga dengan kekuatan luar biasa, sehingga membutuhkan orang-orang luar biasa di dalamnya.

Haruna menambahkan, mereka harus benar-benar paham tentang kondisi dan problem sepak bola Indonesia, sehingga mengambil keputusan bisa benar-benar adil.

”Komdis ini harus menjamin transparansinya juga. Sebab, banyak yang mensinyalir, orang yang berada di komdis lalu ada yang berafiliasi dengan klub,” ujarnya.

Sekretaris PSMS Medan Julius Raja mengatakan, perombakan adalah hal baik dan bagus. ”Sebab, setiap protes yang pernah kami ajukan tidak pernah ditanggapi. Kami semacam dirugikan oleh komdis. Mereka (komdis) memutuskan masalah tanpa ada komunikasi dulu dengan klub,” keluhnya.

Dia berharap, anggota komdis berikutnya lebih baik. ”Misalnya ketika adalah masalah dalam pertandingan kami dipanggil terlebih dulu sebelum dihukum. Jadi, kami punya kesempatan memperlihatkan bukti. Seperti yang dulu juga diundang. Kalau misalnya ternyata tidak bersalah, kan bisa nggak kena hukuman,” ujar Julius.

Adapun manajer PSIS Semarang Wahyu Winarto berharap, yang terpilih orang-orang kompeten. ”Jadi, keputusan yang diberikan itu sesuai dengan harapan klub dan masyarakat sepak bola. Komdis sebelumnya membuat keputusan itu kurang tepat. Saya nanggak tahu pertimbangan mereka. Banyak keputusan yang janggal,” ucapnya.

Sebelumnya, dia mengaku bahwa mereka tidak banyak melakukan protes atas keputusan-keputusan yang dijatuhkan oleh Komdis PSSI. ”Kami sudah tahu kalau nggak bakal dapat apa-apa (apabila memprotes, Red). Menghabiskan energi kalau mengurusi Komdis,” terang Wahyu. (rid/gil)