Sriwijaya FC di Tengah Industri Vs BUMD, Pilih Jadi Mandiri

Sriwijaya FC kembali membuka lembaran baru. Mereka berniat untuk mencari investor demi meningkatkan kualitas pengelolaan klub ke arah yang lebih baik.

Ya, alih pengelolaan klub sempat terjadi di kubu Sriwijaya. Ada wacana, pengelolaan Sriwijaya berada di bawah pengelolaan Badan Usaha Milik Daerah.

Wacana ini ditentang oleh Direktur Utama PT Sriwijaya Optimis Mandiri, Muddai Madang. Menurutnya, pengelolaan Sriwijaya di bawah BUMD bisa jadi merupakan langkah yang tepat.

“Diurusi lagi oleh pemerintah, jadi langkah yang tidak tepat. Kami akan mengalami kemunduran. Juga, itu tak sesuai dengan tata kelola yang disyaratkan FIFA atau AFC,” ujar Muddai.

“Klub sepakbola Indonesia sudah lama tak dibiayai APBD, apalagi dikelola dalam bentuk BUMD. Itu sama saja mundur. Sriwijaya sebenarnya klub yang siap menuju era industri,” kata pengamat sepakbola, Budiarto Shambazy.

Sejak 2006, Kementerian Dalam Negeri sudah mengeluarkan peraturan Nomor 13 tahun 2006 tentang pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Salah satu isinya adalah pelarangan penggunaan dana hibah dan bantuan sosial secara berulang setiap tahun.

Sebab, saat itu, klub sepakbola yang dimiliki beberapa pemerintah daerah masih belum mandiri. Penegasan tentang aturan ini, secara spesifik, adalah dengan dikeluarkannya Permendagri Nomor 32 tahun 2011 yang secara tegas melarang dana APBD digunakan klub sepakbola oleh Pemerintah Daerah.

Pun, sebenarnya Sriwijaya sudah berdiri sendiri sejak 2009 silam. Di bawah arahan PT SOM, Sriwijaya bergerak sebagai klub yang dikelola sebuah entitas perusahaan.

Itu tanpa menghilangkan label bahwa Sriwijaya milik masyarakat Sumatera Selatan. Masuknya investor dari luar, disebut Muddai, tak akan menghilangkan label Sriwijaya milik masyarakat Sumatera Selatan.

Ada beberapa investor yang belakangan dikaitkan dengan Sriwijaya. Dua di antaranya adalah Erick Thohir dan Yusuf Mansur.

Muddai menuturkan, investor yang masuk bisa saja membuat Sriwijaya lebih bergairah. Bukan tak mungkin, dengan kehadiran investor, Sriwijaya bisa membeli banyak bintang seperti yang dilakukan Persib ketika merekrut eks pemain Chelsea, Michael Essien.

“Kami harus berorientasi ke depan. Jangan terus-terusan dipolitisir. Sriwijaya klub besar, tetap jadi kebanggaan Sumatera Selatan yang dikelola orang profesional dan membawa ke arah lebih maju,” terang Muddai. (one)