Fakhri Husaini, Tragedi Sanksi FIFA, dan Gelar Piala AFF U-16 2018

Fakhri Husaini adalah sosok di balik keberhasilan Timnas Indonesia U-16 meraih juara Piala AFF U-16. Indonesia juara setelah mengalahkan Thailand lewat adu penalti 4-3 (1-1), Sabtu (11/8/2018) di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo.

Tak hanya menjadi juara, Indonesia juga mencatatkan diri sebagai tim yang tak terkalahkan dan mencetak gol paling banyak, yakni 22 gol.

Trofi Piala AFF U-16 merupakan hasil termanis Fakhri selama menangani tim usia muda sejak 2014. Fakhri terpilih menjadi pelatih Timnas Indonesia U-16 pada maret 2014. Pelatih kelahiran Lhokseumawe, Aceh, itu juga didaulat menangani Timnas Indonesia U-19.

Pada era itu, PSSI membentuk dua tim, yakni Timnas U-15 dan U-17, sebagai cikal bakal Timnas U-16 dan U-19 untuk Piala AFF tahun 2015.

Setelah melakukan seleksi pemain di berbagai daerah, Fakhri melakukan pemusatan latihan mulai akhir 2014 di Pusat Pembinaan Usia Muda PSSI, Sawangan, Depok.

Namun, pada 30 Mei 2015, Fakhri dan kedua tim yang ditanganinya harus mengubur impian mereka untuk tampil pada dua turnamen besar, yakni Piala AFF dan Piala AFC.

Tak lain karena FIFA menjatuhkan sanksi untuk Indonesia, akibat kisruh yang terjadi di PSSI dan pemerintah. Akibat sanksi itu, Indonesia yang bakal menjadi turan rumah pada Piala AFF U-16 dan U-19 2015, dicoret dari daftar peserta.

Angkatan Egy Maulana Vikri
Egy Maulana Vikri yang kini bermain di Lechia Gdanks, merupakan satu di antara pemain jebolan Timnas Indonesia U-16 era Fakhri Husaini.

Sungguh ironis karena pada saat FIFA mengumumkan sanksi, para pemain Timnas Indonesia U-16 dan U-19 sedang menjalani pemusatan latihan di Depok.

Pada waktu diumumkan, tak sedikit pemain yang menangis, karena mereka sudah menghabiskan waktu hampir satu tahun untuk menembus timnas.

Sanksi FIFA yang berujung absennya Indonesia pada semua turnamen internasional membuat para pemain kembali ke daerah masing-masing.

“Saya hanya tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan anak-anak kami kalau mereka tidak bisa tampil di ajang AFF. Padahal, di ajang itulah mereka bisa menunjukkan bakat, dan hasil latihan mereka bersama saya selama kurang lebih hampir setahun ini.”

“Dengan begitu, akan sia-sia saja usaha kami dan mereka. Padahal, tim ini dipersiapkan untuk mengikuti ajang itu, dan Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah. Sangat disayangkan kalau tidak bisa.”

Surat Terbuka
Fakhri sempat membuat surat terbuka, untuk mengutarakan kekecewaan akibat sanksi FIFA.

“Minggu (31/5) dini hari, saya meninggalkan markas latihan usia muda PSSI di Bojongsari, menuju Bandara Soekarno Hatta. Saya pulang ke Bontang. Anak-anak Timnas U-16 sudah kembali ke daerah pada hari Sabtu (30/5), sedangkan Timnas U-19 pulang Minggu pagi. Kami semua sedih dan kecewa dengan sanksi FIFA, kesempatan bagi anak-anak untuk tampil di Piala AFF dan Kualifikasi Piala AFC bisa terancam.

Bagi seorang pelatih, tidak ada yang lebih menyakitkan selain melihat anak-anak asuhnya tidak bisa bertanding hanya karena hal seperti ini. Semoga pemerintah memperhatikan dampak sanksi ini bagi sepak bola usia muda kita. Harapan saya, semoga sanksi FIFA tidak berlangsung lama agar para pemain U-16 dan U-19 bisa tampil di Piala AFF serta kualifikasi Piala AFC. Kami sudah mempersiapkan tim ini sejak tahun 2014.

“Bapak Presiden, bahwa kalau jumlah penduduk suatu negara dijadikan dasar atas tolak ukur prestasi Timnas, mungkin sudah lama India dan Tiongkok jadi juara dunia. Saya ingin bertanya, apa saja yang sudah diberikan negara untuk mendukung prestasi sepakbola Indonesia? Apakah ada fasilitas lapangan yang layak untuk anak-anak SSB?”

Mereka tidak memakainya secara gratis, tetapi menyewa fasilitas pemerintah. Apakah sudah ada fasilitas pemuusatan l;atihan yang layak bagi Timnas? Sehingga pada saat pemusatan ;atihan timnas tidak perlu pindah dari satu hotel ke hotel lain, latihan dari satu lapangan ke lapangan lain.

Jadi, jangan Cuma bisa menuntut prestasi, tapi dukungan untuk meraih prestasi itu tidak diberikan. Hal seperti inilah yang seharusnya bisa dikomunikasikan antara pemerintah dengan PSSI, mumpung Menpora dan Ketum PSSI sama-sama baru menjabat.”

Kini, Fakhri Husaini bisa memberikan kado menjelang HUT kemerdekaan RI, dengan mengantarkan Timnas Indonesia U-16 meraih juara.