Ini Penyebab Penurunan Kualitas Pemain Indonesia Saat Senior

Perkembangan sepak bola Indonesia di dunia internasional hanya bisa bersinar di usia muda saja.

Bukan sebuah kejutan lagi pada usia muda, Tim Nasional (Timnas) Indonesia mampu unjuk gigi dan tampil mengesankan di setiap turnamen atau kejuaraan yang diikuti. Bahkan tak jarang mereka mencetak prestasi yang cukup membanggakan.

Namun ketika mulai memasuki usia senior, semua permainan dan kualitas pemain mulai mengalami penurunan. Tak hanya itu, banyak juga yang saat muda digadang-gadang menjadi andalan Indonesia di masa depan, namun justru cepat menghilang begitu saja saat senior.

Menanggapi hal itu, Sekertaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha, ketika berada dalam sebuah diskusi sepak bola di bilangan Jakarta Barat, Rabu (08/08/18) siang tadi angkat bicara.

Ia mengungkapkan penyebab dari hal tersebut dikarenakan tidak adanya kompetisi usia muda yang terpisah antara amatir dengan profesional.

“Anak-anak kita berkompetisi tidak terpisah. Maksudnya, yang baru belajar main bola beberapa bulan, sudah bergabung dengan pemain yang pernah membela Timnas. Kompetisinya tidak terpisah, selalu terbuka di usia muda,” tutur Ratu Tisha.

“Maka dari itu tidak pernah ada pemisahan antara sepakbola amatir dengan professional, seperti negara-negara maju lain. Ketika usia 12 tahun sudah ada pemisahan di klub-klub profesional akan ada SSB yg terafiliasi PSSI.”

Untuk saat ini, menurut pengakuan Tisha, dirinya dan PSSI sedang menggarap program tersebut. Program itu dijajaki sejak tahun lalu dan diprediksi sampai masa jabatannya berakhir (2020). Nantinya jika berhasil, Indonesia akan memiliki dua liga untuk usia muda, yakni profesional dan amatir.

Sementara legenda sepak bola Indonesia, Yeyen Tumena menilai yang menjadi faktor utama menurunnya kualitas pemain-pemain muda saat naik ke senior karena tidak adanya kompetisi saat usia 19 tahun keatas.

“Kita punya kompetisinya di kelompok usia muda, oleh karena itu bisa bersaing. Namun ketika memasuki 19 tahun keatas, mulai mengalami penurunan karena tidak ada kompetisi.”

“Latihan terbaik atlet adalah kompetisi, karena dia merasakan aura persaingan yang adanya hanya di kompetisi,” kata Yeyen Tumena.