SOS Kutuk Penganiayaan pada Jurnalis oleh Oknum Pesepakbola Liga 3

Insiden penganiayaan yang menimpa salah satu jurnalis media daring oleh sejumlah pesepakbola Dharaka Sindo mendapat sorotan dari Save Our Soccer (SOS). Lembaga yang concern dalam perbaikan tata kelola sepak bola di Indonesia tersebut mengutuk perbuatan barbar tersebut.

“Kami mengutuk perbuatan barbar macam ini. Sepak bola adalah hiburan, bukan tempat pembantaian, penganiayaan, pengeroyokan, pemukulan, bahkan pembunuhan. SOS menuntut PSSI mau turun tangan mengusut tuntas kejadian ini,” ujar Koordinator SOS, Akmal Marhali, Kamis (05/07).

“Siapapun pelakunya, meski tentara sekali pun, harus dijatuhi hukuman berat. Demi sepak bola profesional dan bermartabat,” sambungnya.

Menurut Akmal, kekerasan semacam ini bukanlah yang pertama terjadi di sepak bola Indonesia. Karenanya, mantan jurnalis media olahraga ini meminta agar rantai kekerasan yang ada segera diputus agar tak terus meminta tumbal.

“Penganiayaan macam ini bukan pertama kali terjadi. Terlalu sering. Baik kepada pelaku bola, suporter, apalagi wartawan yang dilindungi Undang-Undang. Perilaku barbar semacam ini harus ditindak tegas dan diberikan sanksi seberat-beratnya agar tak terus berulang,” tutur Akmal.

Sebelumnya, Oryza A Wirawan, jurnalis sebuah media daring di Jawa Timur, menjadi pemukulan sejumlah pesepakbola. Insiden ini terjadi saat ia meliput pertandingan Liga 3, antara Persid Jember melawan Klub Sindo Dharaka, di Jember Sport Garden, Jember, Rabu (04/07) kemarin.

Pemukulan ini bermula sat Oryza mengabadikan protes pemain Sindo Dharaka pada wasit. Saat itulah ponselnya dirampas oknum berseragam doreng. Namun, setelah mengetahui Oryza adalah jurnalis, oknum ini mengembalikan ponselnya.

Kendati ponselnya dikembalikan, tak berarti Oryza terhindar dari petaka. Sejumlah pemain Sindo Dharaka, sesuai pengakuannya, menghampiri Oryza dan menganiayanya, sehingga mengakibatkan luka memar di sejumlah bagian tubuh.

Lebih lanjut, Akmal berharap agar para pemangku kepentingan sepak bola bisa menghentikan iklim kekerasan yang sudah terlanjur lekat dengan sepak bola Indonesia. Pasalnya, Akmal menegaskan, selama kekerasan masih menjadi budaya, selama itu pula sepak bola tak akan berubah.

“Tidak akan mengalami kemajuan. Menghalalkan cara untuk menang bukan roh sepak bola,” tandasnya.

loading...