Plus dan Minus Penggunaan VAR Menurut Jafri Sastra

Penggunaan video assistant reference (VAR) masih memunculkan perdebatan, termasuk di Piala Dunia 2018 di Rusia. Pengunaan bantuan teknologi itu dinilai mampu meminimalisasi kesalahan keputusan sang pengadil. Namun, di satu sisi juga disebut mengurangi nilai emosional dalam sepak bola.

Pelatih Timnas Denmark, Age Hareide, merasa dirugikan teknologi VAR saat timnya bermain imbang 1-1 melawan Australia pada laga kedua penyisihan Grup C Piala Dunia 2018, Kamis (21/6/2018). Dia menyebut VAR telah merenggut daya tarik Piala Dunia.

Pelatih Persis Solo, Jafri Sastra, memiliki dua pandangan terkait penggunaan VAR termasuk nantinya di kompetisi sepak bola Indonesia. Baginya, teknologi rekaman video itu membuat jalannya pertandingan lebih jujur karena keputusan wasit akan lebih adil.

“Dengan VAR, semua kejadian yang di lapangan bisa terlihat jelas sehingga wasit bisa memiliki banyak pandangan untuk mengambil keputusan. Kredibilitas sepak bola lebih terjamin dengan pengunaan VAR,” ungkap Jafri di Stadion Manahan, Solo, Sabtu (23/6/2018).

Meski demikian, pelatih asal Payakumbuh, Sumatra Barat, itu menyebut penggunaan VAR juga mengurangi sisi emosional dan dramatisasi dalam sepak bola.

Terlebih, wasit juga membutuhkan waktu beberapa menit untuk menyaksikan tayangan ulang melalui VAR, yang dinilai Jafri mengurangi tempo pertandingan.

“Jadi, ketegangan yang menguras emosi saat di lapangan begitu saja hilang setelah wasit melihat tayangan ulang. Istilahnya tidak ada lagi perdebatan di warung kopi soal keputusan wasit dalam pertandingan. Adrenalin dalam sepak bola juga berkurang,” kata mantan pelatih Mitra Kukar dan Persipura Jayapura tersebut.