10 Kali Sidang, Komdis PSSI Jatuhkan Denda Lebih dari Rp 3 M

Komisi Disiplin PSSI telah menggelar sebanyak 10 kali sidang pada tahun ini. Dari sidang-sidang tersebut, Komdis PSSI menjatuhkan hukuman denda senilai lebih dari Rp 3 miliar.

Komdis PSSI menggelar sidang secara berkala untuk menindaklanjuti berbagai pelanggaran disiplin yang terjadi dalam kompetisi Liga Indonesia. Pelaku pelanggaran beragam, mulai dari klub, pemain, pelatih, ofisial tim, hingga panpel pertandingan. Hukuman yang dijatuhkan pun macam-macam, mulai yang paling ringan berupa teguran, sampai larangan bertanding (untuk pemain) dan juga denda dengan nilai bervariasi.

Komdis PSSI pertama kali melakukan sidang pada 3 April 2018. Denda terbesar dijatuhkan kepada Persib Bandung akibat ulah suporter yang menyalakan flare dan bom asap saat menjamu PS Tira. Maung Bandung diganjar denda Rp 100 juta.

Pada sidang 3 April tersebut, Komdis membuat enam keputusan. Total, Komdis menerima uang dari denda sebesar Rp 140 juta.

Sidang selanjutnya digelar pada 11 April. Komdis PSSI menjatuhkan denda total Rp 300 juta. Bali United menerima denda paling besar yaitu Rp 80 juta akibat adanya pelemparan botol dan penyalaan kembang api saat menjamu Perseru Serui.

Komdis PSSI kembali melakukan sidang pada 18 April. Kali ini, Arema FC mendapatkan denda uang paling besar yaitu Rp 250 juta saat menjamu Persib Bandung. Ketika itu terjadi pelemparan botol dan sepatu ke lapangan sampai membuat pelatih Persib terluka dan juga penyalaan flare. Total denda dari Komdis sebesar Rp 390 juta.

Pada 25 April Komdis PSSI kembali bersidang. Denda paling besar Rp 50 juta diterima pemain Mitra Kukar, Hendra Adi Bayauw, karena telah melempar bola ke muka asisten wasit 1 saat menghadapi Persipura Jayapura.

Dalam sidang tersebut, Komdis membuat enam keputusan dengan total denda Rp 110 juta. Ada satu denda non-uang yaitu berupa teguran keras kepada Asisten Pelatih PS. Tira Sdr. Miftahud karena melakukan protes keras dengan cara menggandeng tangan wasit.

Sidang berikutnya digelar pada 4 Mei. Persela Lamongan menerima denda paling besar Rp 50 juta akibat lima kartu kuning yang terjadi ketika melawan Bhayangkara FC. Total Komdis menjatuhi sanksi denda sebesar Rp 95 juta.

Dalam sidang Komdis PSSI pada 9 Mei, Persebaya Surabaya menjadi klub yang menerima sanksi denda paling besar sepanjang sidang Komdis PSSI. Green Force didenda Rp 300 juta akibat pelemparan botol, flare, smoke bomb, maskot mengacungkan jari tengah ke pemain Arema FC, pembalikan nama Arema FC di papan skor.

Panpel Persebaya juga menerima denda uang Rp 100 juta akibat tak mampu memberikan rasa aman dan nyaman terhadap perangkat serta tim lawan, penonton mengencingi gawang dan memasuki setelban. Komdis mengeluarkan sanksi denda total Rp 702,5 juta.

Komdis PSSI mengeluarkan keputusan lagi pada sidang 16 Mei. Sanksi denda paling besar Rp 200 juta diterima oleh Sriwijaya FC karena suporter menyalakan bom asap lebih dari lima kali.

Pada sidang 23 Mei, Komdis PSSI membuat keputusan paling banyak yaitu 25 keputusan. Total Komdis menerima denda Rp 430 juta.

Dalam dua sidang terakhir pada 31 Mei dan 6 Juni, Komdis menjatuhi sanksi denda masing-masing total Rp 470 juta dan Rp 430 juta. Persebaya kembali menerima sanksi denda uang paling besar Rp 300 juta akibat ulah suporternya menyalakan kembang api lebih dari lima kali dan pengulangan.

Jika ditotal, hingga sidang terakhir Komdis PSSI telah menjatuhkan denda senilai Rp 3.367.500.000. Komdis PSSI menegaskan bahwa uang denda tersebut akan masuk ke kas PSSI.

liga88
loading...