Meski Merugi Rp600 Juta, Perseru Punya Tujuan Mulia Merantau di Malang

Perantauan Perseru Serui akhirnya selesai saat menghadapi Arema FC pada Rabu (06/06/18) lalu. Sebelumnya, Perseru juga menjamu Barito Putera dan Sriwijaya FC di Stadion Gajayana Malang, selama menjalani jadwal di Bulan Ramadan.

Kebijakan memindahkan laga home ke Malang tidak lepas dari belum rampungnya pemasangan lampu di Stadion Marora Serui, yang hanya memiliki daya penerangan jauh di bawah standar Liga 1 yakni 800 sampai 1.200 Lux.

Menjamu lawan di rumah tim lain plus minimnya jumlah penonton, otomatis membuat anggaran operasional menjadi defisit.

Panpel Perseru Serui disebut sudah merugi sampai Rp 600 juta, lantaran menanggung biaya operasional dalam tiga pertandingan kandang selama di Stadion Gajayana.

“Kalau rugi, ya secara hitungan memang demikian. Untuk jumlahnya, ya sekitar itu lah,” beber Ketua Panpel Perseru Serui, Charles Gomar saat ditemui jurnalis di Stadion Gajayana Malang.

Kendati demikian, Panpel Perseru setidaknya masih bisa menekan besarnya biaya operasional pertandingan saat laga kontra Arema FC, semalam.

Sebanyak 8.200 dari 15 ribu tiket mampu terjual, membuat Perseru setidaknya bisa mengurangi beban anggaran operasional hingga lebih dari Rp400 juta.

“Ya, sedikit membantu dalam hal biaya operasional untuk pertandingan di Malang. Tapi untuk penjualan tiket lawan Arema memang tidak ada target (penjualan),” bilang figur kelahiran Serui yang ramah tersebut.

Lebih dari itu, Perseru tetap menarik pengalaman positif dari kebijakan merantaunya di Jawa Timur. Terlepas dari gagal menggelar pertandingan di Papua, namun kepentingan nasional tetap bisa terlaksana.

“Yang penting kan itu. Bagaimana kami berniat memberikan hiburan sepakbola kepada penonton melalui kompetisi Liga 1,” pungkasnya.

loading...