Mengupas Bonek Mania Cinta Damai dan Oknum Bonek Suka Rusuh

Bonek Mania merupakan satu di antara kelompok suporter terbesar di Indonesia. Pendukung setia Persebaya Surabaya ini tak hanya berasal dari kota asal klub itu(Surabaya), tetapi hampir di seluruh Kota-Kabupaten di Jawa Timur, bahkan hingga di seluruh penjuru Tanah Air.

Sebagai bukti, di mana pun Persebaya bermain, selalu ada Bonek Mania yang memberikan dukungan. Bahkan di sekitar Malang Raya yang menjadi basis pendukung rival abadinya, Aremania, Bonek masih bercokol, khususnya di Kota Batu.

Hanya, stigma negatif tentang pendukung Persebaya ini masih menancap pada kelompok suporter yang sedang membangun citra positif ini.

Di saat tokoh Bonek Mania berusaha keras membangun pencitraan Bonek Mania menjadi lebih baik lewat berbagai upaya, pendekatan persuasif, mengedukasi langsung, edukasi via media mainstream maupun media sosial, dan banyak lagi, justru sejumlah kerusuhan yang melibatkan Bonek di Solo dan Bantul Yogyakarta, pecah.

Hal ini pula yang membuat upaya serius tokoh Bonek Mania untuk mengikis cap buruk terhadap mereka terasa kurang signifikan.

Padahal, tak sedikit Bonek Mania cinta damai. Dari klaim mereka, dua kericuhan terakhir juga bukan dipicu Bonek Mania, meski tetap ada oknum Bonek yang suka bikin ulah.

“Kalau yang suka bikin ulah itu sebagian kecil, tapi digeneralisasi. Ini yang membuat upaya kami lebih berat. Tapi, harus kami sadari, Bonek ada di mana-mana, sulit untuk memetakan siapa yang suka onar dan tidak. Karena selain menyebar dan tergolong massa cair, jumlah Bonek yang tidak terkoordinasi juga tidak sedikit,” jelas Tubagus Dadang Kosasih, satu di antara tokoh Bonek Mania.

Kerusuhan di Solo beberapa waktu lalu misalnya, Dadang menyebut ada aksi pengadangan terhadap Bonek Mania yang dilakukan orang tak dikenal di beberapa ruas jalan.

Begitu juga di Bantul, di mana ada lemparan petasan ke arah kerumunan Bonek Mania sebagai pemantiknya. Insiden bisa meluas dan melibatkan banyak Bonek Mania lainnya karena adanya upaya serangan terhadap semua Bonek Mania, sehingga menimbulkan aksi perlawanan dan usaha mempertahankan diri dari Bonek Mania yang sebelumnya tak terlibat.

Ribuan Bonek memadati stadion saat mendukung Persebaya Surabaya melawan Arema FC pada lanjutan Liga 1 Indonesia 2018 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya (6/5/2018). Persebaya Surabaya menang tipis 1-0. (Bola.com/Aditya Wany)
Terlepas dari itu, data riil yang dicatat sekretariat Arek Bonek 1927 (organisasi kelompok suporter Persebaya), menunjukkan total Bonek Mania asal Surabaya yang resmi tercatat sebagai anggota sebanyak 60 ribu orang.

Jumlah itu lebih banyak ketimbang Bonek Mania asal Surabaya yang tak terdaftar sebagai anggota resmi.

“Kami sudah melakukan pendataan terhadap semua Bonek Mania yang resmi terdaftar sebagai anggota. Data ini kami ambil dari kantong-kantong kelompok suporter Persebaya di Surabaya saja. Hal itu juga bisa diketahui dari jatah distribusi tiket di laga home,” timbuh Dadang.

Menurut pria asli Malang ini, untuk membedah lebih luas lagi, tak mudah untuk mengetahui jumlah riil Bonek Mania di seluruh Jawa Timur, atau bahkan di seluruh Indonesia.

“Kalau dari pengamatan saya di lapangan, secara keseluruhan jumlah Bonek Mania yang berasal dari dalam dan luar Surabaya yang tidak terkoordinasi lebih banyak dibanding jumlah Bonek Mania yang terkoordinasi. Tapi, untuk mengetahui berapa banyak yang masih suka rusuh dan tidak, itu sulit,” lanjut pria yang berdomisili resmi di Kota Batu ini.

Bonek estafet saat mendukung Persebaya ke babak 8 besar Piala Presiden 2018. (Bola.com/Aditya Wany)
Namun, Dadang memastikan ada kecenderungan Bonek Mania yang terlibat kerusuhan mayoritas yang tidak terkoordinasi.

“Logikanya mudah, Bonek yang berangkat mengendarai mobil, motor, dan bus atau angkutan umum yang disewa tentu tidak ingin terjadi apa-apa dengan kendaraan mereka. Dan bisa dilihat dari data Bonek korban kerusuhan, mereka kebanyakan yang berangkatnya estafet,” kata Dadang.

Bagi Dadang, persoalan ini masih sulit dipecahkan karena keberangkatan mereka dari masing-masing daerah tidak bersamaan, juga tidak terdata dengan jelas, serta menumpang kendaraan yang berbeda-beda.

“Ini jadi pekerjaan rumah yang harus kami carikan solusinya. Supaya semua Bonek Mania yang melakukan tur ke daerah lain dapat terpantau. Dengan begitu, siapa pun yang bikin ulah bisa diketahui,” ucap pria berusia 61 tahun tersebut.