Dilema Tiket Elektronik pada Pertandingan Sepak Bola di Indonesia

Industri sepak bola di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan pesat. Salah satunya dengan bentuk tiket yang sudah elektronik. Seberapa efektifkah?

Tiket menjadi salah satu hal vital dan kerap bermasalah di dalam industri sepak bola Indonesia. Masih teringat dalam kenangan bangsa ini di mana masyarakatnya harus berantri berjam-jam untuk membeli tiket pertandingan Timnas Indonesia.

Panas terik matahari dan juga pertaruhan nyawa menjadi hal wajib dilakukan untuk mampu membeli tiket menonton di stadion. Namun, hal itu dalam setahun terakhir sudah perlahan sirna.

PSSI sebagai induk sepak bola tertinggi di Indonesia menggandeng salah satu online marketplace terkemuka di Indonesia bernama Bukalapak, untuk menjadi sponsor dalam urusan pemesanan tiket. Nantinya, pembeli tiket hanya cukup mengakses situs Bukalapak dan memilih pada kategori mana akan menonton.

Setelah itu, calon penonton langsung membayar tiket pesanan melalui pembayaran sistem transfer. Setelah proses pembayaran dilakukan, pembeli akan mendapatkan tiket elektronik dilengkapi dengan kode batang (barcode) yang dikirim via email atau aplikasi Bukalapak yang tersedia di ponsel.

Pilihan pertama, pembeli tersebut tinggal menyodorkan ponselnya ketika dilakukan pemindaian di pintu masuk. Pilihan kedua, pembeli bisa menukarkan bukti pembayaran untuk mendapatkan tiket fisik berupa gelang yang juga dilengkapi kode batang. Namun, permasalahan ternyata baru dimulai saat akan memasuki stadion.

Meskipun sudah mendapatkan jaminan tiket, namun tetap saja para calon penonton harus melalui sekali lagi ujian sebelum menyaksikan tim kesayangannya berlaga. Salah satu contohnya terjadi pada pertandingan uji coba antara Timnas Indonesia U-23 melawan Thailand U-23 yang berlangsung di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Minggu (3/6/2018).

Walau hanya berstatus laga uji coba, namun tetap saja pertandingan ini menyita banyak perhatian dan antusias penonton. Ribuan suporter Merah Putih sudah memenuhi Stadion Pakansari dua jam sebelum laga dimulai.

Minimnya scanner (pemindai tiket elektronik) yakni satu alat pada tiap sektor pintu stadion, membuat antrean penonton mengular. Proses ini bisa memakan waktu 30-45 menit sampai masuk stadion.

“Ya hal seperti ini sudah biasa. Ini hanya pertandingan persahabatan, kalau sampai kaya pertandingan final atau lawan Timnas Indonesia adalah negara bagus, bisa sampai berjam-jam ini antriannya,” kata salah seorang penonton Timnas Indonesia, Rudi Tinayasa, kepada Bola.com.

Hal semacam ini seharusnya jadi bahan evaluasi buat para operator pertandingan. Jangan sistem yang sudah bagus dalam hal pemesanan tiket elektronik secara online nyatanya masih membuat calon penonton tetap antre untuk masuk stadion.

Seharusnya, pada setiap stadion yang sudah mendukung sistem tiket elektronik lebih ditingkatkan lagi jumlah scanner di tiap pintu masuk. Dengan demikian, menonton pertandingan sepak bola di stadion tak lagi menjadi momok menyeramkan dan menuju wahana rekreasi keluarga.

loading...