Mengulik Tumpulnya Lini Depan Persebaya

Sudah dua laga Persebaya Surabaya melewati pertandingan di Gojek Liga 1 bersama Bukalapak tanpa melahirkan gol dari lini depan. Hasilnya pun berbeda, masing-masing sekali menang dan kalah.

Saat tumbang 1-3 dari Mitra Kukar (29/4/2018), gol Persebaya lahir melalui gelandang muda Sidik Saimima. Lalu, kemenangan 1-0 atas Arema FC (6/5/2018) berkat usaha Misbakus Solikin. Keduanya merupakan pemain tengah.

Namun, pelatih Persebaya, Angel Alfredo Vera mengaku tidak risau. Baginya, hal itu sangat wajar dan bukan masalah yang perlu dijadikan evaluasi oleh tim.

“Dari dulu permainan kami seperti ini. Saat di Liga 2 gol juga banyak lahir dari pemain tengah atau sayap. Permainan kami memang ofensif menekan lawan,” kata pelatih asal Argentina itu.

Musim lalu, Mis, sapaan akrab Misbakus, tampil sebagai top scorer tim dengan mengemas 12 gol dalam 22 penampilan di Liga 2. Padahal, posisi Mis adalah gelandang tengah.

Di bawah Mis, ada pemain Irfan Jaya, yang mengoleksi sembilan gol dan enam assist dalam 20 penampilan. Setelah itu, baru ada striker Rishadi Fauzi yang menyumbang tujuh gol dari 19 penampilan.

Jika menilik pencapaian musim ini sampai pekan ketujuh Liga 1 2018, sebenarnya gol yang lahir pemain depan dan lainnya cukup berimbang. Lini depan berhasil menyumbang lima gol. Begitu pula pemain lini lain menyumbang lima gol.

Lima gol dari pemain lini lain itu lahir dari lima pemain yang berbeda. Mereka adalah Osvaldo Haay, Sidik Saimima, Misbakus Solikin, Abu Rizal Maualana, dan Robertino Pugliara.

Sedangkan dari posisi lini depan atau sang target man diwakili satu pemain saja, yakni David da Silva. Striker asal Brasil itu memborong lima gol dalam enam penampilan di Liga 1 2018.

Persebaya selama ini pernah mencoba tiga pemain untuk bermain sebagai target man. Selain Da Silva dan Fauzi, klub juara Liga 2 2017 itu juga pernah memainkan Ricky Kayame.

Seretnya produktivitas lini depan itu sempat membuat Alfredo mencoba cara baru. Dia menurunkan dua striker sekaligus dengan menurunkan Da Silva dan Fauzi di saat yang bersamaan.

Hal itu terjadi saat melawan Sriwijaya FC (22/4/2018) dan Mitra Kukar (29/4/2018). Hanya, skema itu dijalankan saat Persebaya seolah sedang dalam kondisi panik untuk mencari kemenangan.

Di laga melawan Sriwijaya FC, Da Silva turun sebagai starter. Berikutnya, Fauzi baru masuk pada menit ke-76 menggantikan Fandi Eko Utomo saat skor sementara 1-1. Skor sama kuat itu bertahan sampai peluit panjang.

Eksperimen tersebut kembali dicoba Alfredo saat melawan Mitra Kukar. Lagi-lagi, Da Silva tampil sebagai starter. Fauzi masuk pada menit k-86 menggantikan Irvan Febrianto dalam kondisi tim tertinggal 1-3, yang bertahan sampai pertandingan berakhir.

Eksperimen dua striker itu tidak lagi dicoba dalam laga Derbi Jatim menjamu Arema. Fauzi tampil lebih dulu dan keluar pada menit ke-65. Ia kemudian diganti Da Silva. Dua-duanya gagal menyumbang gol.

Melihat hal itu Alfredo tetap menanggapi dengan tenang. Dia masih terus berusaha mencari komposisi yang pas bagi skuat Persebaya untuk diturunkan di Liga 1.

“Saya tidak pernah masalah dengan hal ini. Siapa saja bisa cetak gol. Semua pemain bisa saja melakukan itu dan yang penting tim bisa menang. Saya masih mencari yang pemain yang pas juga,” ungkap mantan pelatih Persipura Jayapura itu.

Permasalahan ini bisa juga muncul karena Persebaya tidak punya alternatif lain. Terutama, saat pemainnya kebingungan membongkar pertahanan lawan.

Selama ini Persebaya dikenal dengan permainan ofensif dan mengandalkan penguasaan bola untuk mengurung pertahanan lawan. Tetapi, cara itu justru membuat lawan banyak menumpuk pemain belakang untuk ikut mengamankan gawang.

Persebaya sempat mencoba tampil menunggu serangan lawan dan mengandalkan serangan balik saat melawan Mitra Kukar. Namun, cara itu masih belum berhasil karena mereka gagal mendulang poin.