Insiden Stadion Kanjuruhan, Arema FC Akui Lalai

Manajemen Arema FC mengakui adanya kelalaian dari pihak mereka saat terjadi insiden kerusuhan pada laga melawan Persib Bandung di Stadion Kanjuruhan, Malang, Minggu (15/4) lalu. Seperti yang diberitakan sebelumnya, 212 orang menjadi korban insiden tersebut, dengan 40-an di antaranya menjalani rawat inap.

Saat ini, tersisa tujuh orang yang masih menjalani rawat inap di rumah sakit yang terdapat di wilayah Malang. Kerusuhan itu juga merenggut korban jiwa seorang Aremania yang berusia 16 tahun.

“Saya selaku CEO Arema, saya mengakui telah ada kelalaian baik itu di tim maupun di kepanpelan. Atas nama institusi Arema, saya selaku CEO meminta maaf,” kata Iwan Budianto, CEO Arema.

“Kelalaian terjadi karena, sekali lagi kami menganggap remeh kesulitan apa yang akan terjadi dalam suatu pertandingan. Sejujurnya kami menganggap kedewasaan Aremania sangat tinggi, jadi kami terlalu rendah mempersiapkan diri ketika situasi terjadi. Itu kelalaian yang harus kami akui,” urai pria yang akrab disapa IB ini.

Lebih lanjut, pria yang juga berstatus sebagai kepala staf ketua umum PSSI itu juga memohon maaf terkait tindakan match steward terhadap penonton. Menurutnya, ada tindakan di luar batas yang dilakukan match steward terhadap penonton, yang dianggap menjadi salah satu pemicu terjadinya kericuhan.

“Saya memahami kekecewaan Aremania yang sangat jelas ada terjadi pemukulan. Apapun yang terjadi kami akan memberikan evaluasi dan sanksi kepada match steward itu. Tentu ini akan menjadi pembelajaran kami ke depan, termasuk pembelajaran yang mungkin datang dari PSSI,” tuturnya.

“Kami tidak berandai-andai, kami tidak mencari kambing hitam atas kesalahan yang kami buat. Maka kami menyatakan penyelenggaraan pertandingan kemarin kami lalai dan sekali lagi kami mohon maaf. Semoga jika nanti ada sanksi bisa memberikan perubahan kepada kami dan itu akan membuat kami begitu konsen memperbaikinya,” tegasnya.

Menurut Iwan, satu hal yang mungkin disesalinya adalah panpel tidak mengingatkan SOP (standar operasional prosedur) yang sebenarnya sudah dimiliki Arema, yang telah mengacu kepada regulasi FIFA. Sehingga kejadian ini cukup meluas.

“Kemarin situasi yang demikian chaos, seharusnya menurut kami aparat dari kesatuan yang menggunakan K9 yang harusnya duluan menghalau. Tetapi sekali lagi kami lalai dan kami tidak aktif mengingatkan ini kepada teman-teman kepolisian, sehingga kesalahan itu kami ambil alih, kami bertanggung jawab atas kelalaian itu,” ujarnya.

“Terkait dengan vonis yang mungkin dijatuhkan oleh rekan-rekan PSSI, saya selaku CEO menyampaikan bentuk pertanggungjawaban dari kelalaian hingga menimbulkan korban jiwa. Maka apapun yang diputuskan kepada Arema dalam hal ini adalah panpel, kami menerima dengan lapang dada,” jelasnya.

Sementara itu, pembina Arema, Agoes Soeryanto, mengatakan pihaknya berkomitmen penuh memberikan memberikan perawatan hingga sembuh kepada para korban. Dia pun mengatakan pihak keluarga korban tidak perlu memikirkan biaya perawatan, karena semua akan ditanggung Arema.

“Saya dan manajemen dari, Senin (16/4) kemarin, langsung mengunjungi pasien dari rumah sakit ke rumah sakit. Kini beberapa sudah pulang dan beberapa masih menjalani perawatan,” ucap Agoes.

“Saat ini, sepakbola Malang yang tentu juga berimbas kepada sepakbola Indonesia sedang berkabung. Saya sebagai pembina merasakan duka yang mendalam yang mungkin sampai hari ini kami tidur hanya 1-2 jam. Semua kekuatan kami keluarkan karena ini bukan soal empati, tapi karena ini adalah keluarga kami,” urai Agoes.

“Kami juga sudah berkunjung kepada keluarga korban yang meninggal dunia. Kami juga akan memberikan tanggungan pendidikan kepada anak korban kecelakaan di Jombang,” pungkasnya.(gk-48)

loading...