PSSI Sudah Berusia 88 Tahun, Apa Saja Prestasinya

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) akan merayakan hari jadinya yang ke-88 pada Kamis 19 April 2018. Sejak dibentuk pada 1930 di Yogyakarta, PSSI telah dipimpin oleh 16 ketua umum.

Saat dibentuk, PSSI dikenal dengan nama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia. Kemudian pada 1950 saat kongres di Solo, diubah menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.

PSSI jadi salah satu organisasi yang dibentuk pada era penjajahan Belanda. Organisasi ini juga sebagai alat perjuangan untuk berjuang melawan Belanda.

Dari 16 Ketua Umum yang pernah memimpin PSSI, tentu mereka memiliki prestasi masing-masing.

Berikut nama-nama 16 Ketua Umum dan prestasinya dikutip dari situs resmi PSSI:

1. Soeratin Sosrosoegondo (1930-1940): pendiri PSSI. Sebelum mendirikan PSSI, Soeratin rajin mengadakan pertemuan dengan tokoh sepakbola di Solo, Yogyakarta dan Bandung. Kemudian pada 19 April 1930, berkumpullah wakil dari VIJ (Sjamsoedin, mahasiswa RHS), BIVB – Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (Gatot), PSM – Persatuan Sepakbola Mataram Yogyakarta (Daslam Hadiwasito, A. Hamid, dan M. Amir Notopratomo), VVB – Vortenlandsche Voetbal Bond Solo (Soekarno), MVB – Madioensche Voetbal Bond (Kartodarmoedjo), IVBM – Indonesische Voetbal Bond Magelang (E.A. Mangindaan), dan SIVB – Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (Pamoedji).

Dari pertemuan tersebut, diambillah keputusan untuk mendirikan PSSI, singkatan dari Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia. Nama Soeratin kemudian diabadikan untuk trofi yang diperebutkan dalam kompetisi sepakbola junior tingkat nasional.

2. Artono Martosoewignyo (1941-1949): Di bawah kepemimpinannya, tidak banyak yang bisa diperbuat. Terlebih pada 1944-1947 kompetisi perserikatan tidak bisa berjalan karena perang kemerdekaan.

3. Maladi (1950-1959): Pada era kepemimpinannya Maladi mengubah kepanjangan PSSI menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia dari sebelumnya Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia.

Prestasi terbaik Indonesia pada era Maladi, yakni medali Perunggu Asian Games 1958, semifinal Asian Games 1954, dan berpartisipasi di Olimpiade Melbourne 1956. Kisah menahan imbang Uni Soviet 0-0 menjadi kisah heroik hingga kini.

4. Abdul Wahab Djojohadikoesoemo (1960-1964): Pada era kepemimpinannya banyak klub luar negeri datang ke Jakarta untuk uji tanding melawan tim PSSI. Prestasi terbaik timnas, juara Turnamen Merdeka dua tahun beruntun 1961 dan 1962

Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta

5. Maulwi Saelan (1964-1967): Maulwi Saelan ikut mengantarkan Indonesia menembus semifinal Asian Games 1954 dan meraih perunggu pada Asian Games 1958. Prestasi terbaik timnas Indonesia pada era kepengurusannya, yakni Juara Piala Emas Agha Khan di Bangladesh.

6. Kosasih Porwanegara (1967-1974): Salah satu momen yang paling diingat publik mungkin ketika peringatan berdirinya PSSI ke-44, Indonesia bertanding melawan Uruguay dan menang dengan skor 2-1 di Jakarta.

Prestasi terbaik lainnya timnas Indonesia di era Kosasih yakni juara Turnamen Merdeka 1969, juara Piala Raja 1968, juara Piala Pesta Sukan 1972 di Singapura.

7. Bardosono (1975-1977): Salah satu sosok yang kontroversial. Dalam era kepemimpinannya di PSSI yang hanya dua tahun, salah satu hal ketika dia memperkenalkan “juara bersama” pada final Perserikatan yang mempertemukan PSMS Medan dan Persija Jakarta.

8. Ali Sadikin (1977-1981): Prestasi terbaik yang ditorehkan Ali Sadikin, menggulirkan kompetisi semi-pro (Galatama) sejak 1979. Timnas Indonesia ikut penyisihan grup Piala Dunia U-20 1979 di Tokyo, Jepang

9. Sjarnoebi Said (1982-1983): Ia memperbolehkan pemain asing berlaga di Indonesia musim di kompetisi 1982 sebelum dilarang kembali pada 7 Juni 1983.

10. Kardono (1983-1991): Prestasi terbaik di era Kardono, yakni semifinal Asian Games 1986 di Seoul, Korea Selatan, play-off Kualifikasi Piala Dunia 1986 (kalah melawan Korsel), peringkat tiga Piala Antarklub Asia 1986 (Kramayudha Tiga Berlian), medali emas SEA Games 1987 di Jakarta dan emas SEA Games 1991 di Manila, Filipina.

11. Azwar Anas (1991-1999): Prestasi Terbaik di era Azwar Anas yakni; penyisihan grup Piala Asia 1996 (partisipasi pertama), peringkat FIFA tertinggi 76 (September 1998) dan menggulirkan kompetisi Liga Indonesia (Unifikasi Galatama & Perserikatan).

Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar

12. Agum Gumelar (1999-2003): Prestasi terbaik; kemenangan terbesar timnas 13-1 melawan Filipina di Jakarta dan Runner Up AFF Cup 2000 dan 2002.

13. Nurdin Halid (2003-2011): Prestasi terbaik; tuan rumah AFC Asian Cup 2007 bersama Malaysia, Thailand dan Vietnam, Runner-up AFF Cup 2004 dan 2010, dan menggulirkan kompetisi Indonesian Super League (ISL) sejak 2008.

14. Djohar Arifin Husein (2011-2015): Prestasi yang ditorehkan dalam eranya, timnas juara AFF Cup U-19 2013 di Sidoarjo, dan semifinal AFC Cup 2014 (Persipura Jayapura).

15. La Nyalla Mattalitti (18 April 2015-3 Agustus 2016): Kepemimpinannya di PSSI mungkin yang paling singkat. Dia memimpin PSSI dari tanggal 18 April 2015 dalam kongres, 19 April 2015 lalu terbit Surat Pembekuan PSSI sehari sebelum dia terpilih oleh pemerintah yang buntutnya diikuti sanksi dari FIFA.

16. Edy Rahmayadi (10 November 2016-sekarang): Prestasi yang sudah ditorehkan pada masa kepengurusan Edy Rahmayadi, yakni medali perunggu SEA Games 2017 Timnas U-23, Trofi Tien Phong Plastic Cup 2017 Timnas U-16 dan Trofi JENESYS 2017 dan 2018 di Jepang yang diraih Timnas U-16. (one)

loading...