Penjelasan PSSI soal Kado Sanksi dari FIFA pada Hari Jadi ke-88

PSSI mendapatkan kado hukuman dari FIFA tepat pada hari jadinya yang ke-88, Kamis (19/4/2018). Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, mengungkapkan alasan FIFA menjatuhkan sanksi 30 ribu Franc Swiss (Rp426 juta) kepada PSSI.

Federasi Sepak Bola Dunia itu menganggap PSSI lalai karena tidak mengurangi poin enam klub anggotanya. Meski begitu, FIFA tidak merinci identitas keenam klub tersebut.

Hukuman FIFA kepada PSSI bukan berupa sanksi berat yang berpotensi membuat kompetisi sepak bola di Indonesia kembali terhenti. Asosiasi sepak bola Indonesia itu hanya harus membayarkan denda, karena tak memberikan pengurangan poin kepada enam klub yang dipermasalahkan oleh Komisi Disiplin FIFA.

“Sebagai tambahan, PSSI dikenai sanksi sebesar 30 ribu CHF karena tidak mengurangi poin enam klub yang mana sebelumnya telah diputuskan oleh Komdis FIFA. (PSSI) bersalah karena melanggar pasal 64 Kode Disiplin FIFA (tidak mematuhi keputusan FIFA),” bunyi pernyataan dalam rilis FIFA yang diterima Bola.com.

Mengenai hukuman yang diberikan FIFA, Plt Ketum PSSI, Joko Driyono, memberikan penjelasan mengenai perkara sebenarnya yang melahirkan hukuman dan sanksi tersebut.

Joko Driyono menyebut ada enam klub, termasuk empat klub yang tidak berkompetisi di Liga 1 yang memiliki kasus beragam mulai dari 2013 hingga 2017. Joko Driyono menyebut untuk dua klub level Liga 1 pengurangan poin sudah dilakukan.

“Sanksi ini ada kaitannya juga dengan empat klub yang tidak berkompetisi di Liga 1. Semua ada enam klub, di antaranya Persegres, Madura United, Persik Kediri, Persepam, dan dua kasus Persiwa. Sebenarnya masalahnya beragam, ada yang mulai 2013, ada yang 2014, dan seterusnya. Namun, keputusan Komdis FIFA menjadi final pada 2017 sekitar Juli hingga Agustus. Khusus di Liga 1 sangat mudah dieksekusi yaitu Persegres dan Madura United. Pengurangan poin sudah dieksekusi kalau dalam klasemen terakhir ada koreksi poin,” papar Joko Driyono.

“Namun, untuk Persiwa, Persik, dan Persepam, karena sistem kompetisinya berbeda dengan Liga 1, tentu kami ingin mengimplementasikan ini untuk menjaga stabilitas kompetisi. Sebenarnya ingin kami implementasikan pada awal Maret, tetapi kompetisi di Liga 2 dan Liga 3 bahkan belum mulai tahun ini. Jadi ketika deadline harus diputuskan di level komdis, kompetisi belum berjalan jadi implementasinya belum bisa dilihat, apalagi Persik berkompetisi di Liga 3 yang sudah tak bisa kita janjikan saat itu,” lanjut Plt Ketum PSSI tersebut.

Bicara soal hukuman dari FIFA, Joko Driyono menegaskan PSSI menerima kenyataan FIFA menganggap mereka belum menjalankan proses pengurangan poin tersebut. Plt Ketum PSSI itu juga mengaku akan bersurat dengan FIFA untuk meminta penjelasan.

Sebelumnya, PSSI sudah menyampaikan permohonan agar implementasi hukuman kepada tim-tim tersisa dilakukan pada musim ini. Sementara itu, untuk alasan Komdis FIFA meminta pengurangan poin, Joko Driyono mengungkapkan sejumlah alasan mengapa klub tersebut mendapatkan hukuman.

“Hampir semua karena kewajiban klub kepada pemain yang tidak dibayarkan, gugatan pemain terhadap klub yang tidak membayarkan kewajibannya sehingga membuat gaji tertunda. Dampaknya memang kepada PSSI dan ini adalah contohnya,” ujar mantan Sekjen PSSI itu.