Ancaman Kerugian Besar Bayangi ‘Derby Mataram’

Dua tim DI Yogyakarta, PSIM Jogja dan PSS Sleman kembali masuk dalam satu grup pada persaingan Liga 2 2018. Dipastikan ‘Derby Mataram’ ini bakal merugikan kedua kesebelasan tersebut. Mengapa?

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, derby ini sering menimbulkan kericuhan, terutama antar suporter. Kondusivitas dan keamanan Yogyakarta langsung jadi prioritas kedua tim.

Manajer PSS, Sismantoro, menyebut timnya tak keberatan berada dalam satu grup dengan pasukan Laskar Mataram. Namun, dia berharap PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi mempertimbangkan lagi keputusan itu.

“Kami hanya ingin DIY selalu kondusif. Seharusnya bisa mempertimbangkan lagi pembagian grup yang sudah beredar saat ini, meski secara tim kami siap,” kata Sismantoro.

Selama ini hubungan suporter PSS dan PSIM kurang harmonis. Imbasnya, polisi sulit mengeluarkan izin pertandingan jika kedua tim bertemu.

Kali terakhir kedua bertanding dalam kompetisi resmi, yakni pada Divisi Utama musim 2014. Laga itu juga diwarnai kericuhan antara suporter PSIM di tribune timur dan pendukung PSS di tribune selatan.

“Pada manager meeting nanti kami akan sampaikan kondisi sepak bola di DIY secara keseluruhan itu seperti apa. Apalagi ini tahun politik,” tegas Sismantoro.

Sementara, Sekretaris PSIM, Jarot Sri Kastawa, belum mau memberikan banyak komentar. Dia hanya memastikan bahwa pihak manajemen Laskar Mataram baru menerima surat elektronik dari PT LIB terkait pemberitahuan Workshop dan Media Officer pada 14 serta 15 April. Sementara untuk 16 April diakuinya ada undangan Manager Meeting.

“Saya belum bisa berkomentar soal pembagian grup Liga 2 2018 karena kami pun belum terima resmi dari operator,” kata Jarot.