Egy Maulana Vikri Pernah Pertimbangkan Pensiun Dini

Setiap manusia tentu pernah mengalami titik terendah dalam hidupnya, tak terkecuali seorang Egy Maulana Vikri. Hal itu terjadi ketika dia menginjak masa remaja. Hebatnya, dia mampu bangkit dari titik terendah itu dan tetap melanjutkan karier sepak bolanya hingga kini.

Sebagai seorang pemuda yang baru menginjak usia 17 tahun, Egy sudah mampu menorehkan prestasi cukup gemilang di dunia sepak bola. Selain mampu tampil moncer bersama Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-19 dalam beberapa ajang, Egy juga sukses menyabet gelar individu bernama “Jouer Revelation Trophee” dalam ajang Toulon Tournament 2017 silam.

Tidak hanya itu saja, kemampuan Egy juga mendapatkan pengakuan dari beberapa pihak, termasuk media-media besar macam The Guardian maupun Fox Sports Asia.

Sekilas, apa yang Egy raih ini tampak begitu berkilau. Dia, yang dulu hanya seorang bocah biasa yang tinggal di pinggiran Medan, sekarang sudah menjadi buah bibir di dunia sepak bola internasional.

Namun, seperti yang diujarkan dalam lagu band Souljah bahwa ‘tak selalu yang berkilau itu indah’, hal itu juga yang menghiasi perjalanan karier sepak bola Egy. Sebelum dia berpendar seperti ini, ada jalan panjang yang harus dilaluinya. Jalan itu, tentu saja, tidak mudah, dan penuh liku-liku. Malah, sampai membuat dia ingin pensiun dini.

Saat kecil, Egy adalah sosok yang begitu antusias terhadap sepak bola. Sudah terbiasa memegang bola bahkan ketika belum bisa berjalan, menjadikan Egy juga menjadi sosok yang gila bola.

Dipadukan dengan ayahnya yang juga mantan pesepak bola lokal, bakat Egy yang sudah tampak sejak kecil perlahan mulai terasah. Namun, bukan berarti karier sepak bola Egy berjalan dengan mulus-mulus saja.

Egy bercerita, bahwa saat remaja dulu, dia pernah hampir mau pensiun dini. Itu terjadi karena dia pernah dibohongi oleh panitia saat mengikuti sebuah turnamen sepak bola di daerahnya.

“(Pernah mau pensiun dini) gara-gara dulu pernah ada turnamen, terus udah selesai final, saya kalah tuh. Di situ, saya dikasih tahu sama panitia, besok (saat pembagian hadiah) saya akan jadi pemain terbaik, mereka bilang kayak gitu. Tapi, pas besoknya, satu jam sebelum berangkat ke lapangan sama bapak, mereka bilang saya nggak jadi pemain terbaik. Langsung saya nangis di kamar, saya nggak mau keluar-keluar,” kenang Egy ketika berbincang dengan kumparan (kumparan.com).

Kekecewaan juga dirasakan manakala Egy dijanjikan bakal diboyong ke Ibu Kota oleh seorang pemandu bakat. Bahkan, dia juga sempat diiming-imingi untuk bisa terbang ke luar negeri. Akan tetapi, semua hanya tipu muslihat belaka.

“Saya pernah dibohongin bakalan seleksi ke Jakarta, nggak taunya disuruh bayar. Ke Swedia, udah bikin paspor, tapi nggak jadi, ke Malaysia, urus paspor nggak jadi juga.”

“Terus lama-lama, saya ngerasa ‘ah main bola juga nggak jelas kayak gini’. Habis itu saya sudah nggak pernah latihan. Jadi, pulang sekolah, saya cuma ngaji. Atau tidur saja di rumah. Itu berlangsung selama satu minggu.”

Dalam posisinya yang berada di titik terendah tersebut, Egy mengakui ada beberapa sosok yang kembali membangkitkan semangatnya untuk bermain bola. Ketika dibohongi soal trofi, kenang Egy, ayah dan pamannya langsung membelikannya trofi mainan sehingga Egy bahagia kembali. Sementara, menyoal seleksi yang kerap dia gagal ikuti, Egy menyebut satu sosok yang membuatnya percaya kembali.

“Akhirnya, sampai Pak Bagja (Subagja Suihan) datang baru yakini saya, bapak saya suruh latihan lagi terus. Itu juga enggak langsung percaya bapak saya sama pak Bagja. Pak Bagja urus ini, urus itu, Pak Bagja serius, telpon Firman Utina (mantan pemain Timnas Indonesia) buat yakinkan bapak saya. Baru mulai dari situ bapak saya mulai percaya.”

“Pak Bagja izin ke sekolah. Dia urus tempat tinggal saya nanti di sana (Jakarta). Akhirnya saya berangkat seleksi Timnas U-14, saya yakin bisa bersaing. Soalnya saya nggak seleksi di Medan, langsung ke Jakarta.”

Dengan bangkit kembali dan memilih untuk menekuni lagi sepak bola, Egy pun dapat menggapai hal-hal yang mungkin sebelumnya jauh dari gapaiannya. Dia menjadi bintang Timnas U-19, juga menjadi sosok yang pada akhirnya dapat membanggakan Indonesia di kancah sepak bola internasional.

Begitulah, jatuh-bangun yang dirasakan seorang Egy hingga langkahnya kini sudah siap menaklukkan Benua Biru. Di usianya yang masih muda, Egy sudah menjadi panutan dan teladan bagi para pemain-pemain sepak bola usia remaja.

Untuk dirinya sendiri, masih banyak yang bisa dia raih dan masih banyak pula hal yang bisa dia lakukan. Maka, dia pun tak segan menyemangati para pemain muda agar tidak lelah mengejar mimpinya.

“Selalu berusaha, berdoa juga jangan lupa sama Allah, salat dan ngajinya. Pasti nggak ada jalan menuju kesuksesan yang cuma lurus. Ada juga perasaan ingin nyerah karena rasanya udah nggak mungkin lagi. Tapi, inget target awalnya kita mau kemana dan mau membahagiakan siapa. Jangan menyerah gara-gara hal kecil,” tutup Egy.

Kini, Egy akan memulai perjalanannya ke Eropa. Perjalanan yang mungkin kelak akan membawanya kembali merasakan pengalaman yang tidak dia duga sebelumnya, layaknya ketika dia memutuskan untuk terbang ke Jakarta ketika remaja.