Persebaya Khawatir soal Kontrak Pemain karena Kick-off Tak Jelas

Sepak mula gelaran Liga 1 musim 2018 hingga saat ini masih menjadi tanda tanya. Dan, bagi Persebaya Surabaya, urung digelarnya kompetisi tentu bukan sesuatu yang menyenangkan.

Berangkat sebagai pendatang baru di level tertinggi sepak bola nasional, Persebaya sudah bersiap menyambut musim anyar. Sejumlah pemain top macam Osvaldo Haay, Otavio Dutra, dan Ruben Sanadi direkrut untuk memperkuat tim.

Namun, Persebaya justru harus menunggu lebih lama. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) melalui PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) selaku operator kompetisi terus menunda start kompetisi, paling lambat 25 Maret mendatang.

“Sejak jadwal yang ditetapkan belum menemui titik kepastian, kami di Persebaya memang sudah bersiap dengan segala resiko yang akan terjadi,” ujar Manajer Persebaya, Chairul Basalamah, kepada kumparan (kumparan.com), Selasa (6/3/2018).

“Bahkan saya selaku manajer tim sudah menyiapkan rencana A dan B. Saya sudah menyampaikannya kepada pelatih kepala,” tutur dia menambahkan.

Tak dimungkiri, kata Chairul, molornya jadwal kompetisi hingga akhir Maret berdampak negatif bagi klub peserta sendiri. Klub berjuluk ‘Bajul Ijo’ sudah mulai merasakan hal itu sebelum kompetisi dimulai.

Abut –demikian sapaan Chairul– pun tidak menampik bahwa penundaan kick-off kompetisi turut memengaruhi perencanaan keuangan klub. Pasalnya, saat kompetisi tidak berjalan sesuai waktu, klub tetap menunaikan kewajibannya kepada pemain alias membayar gaji.

“Yang berat lagi adalah bagaimana mengatur peak performance pemain, ya, karena menjaga mood pemain itu tentu sangat susah. Itu tidak dapat dibeli dengan uang. Karena pemain ini ‘kan harus disiapkan dengan baik untuk menghadapi lawan di kompetisi nanti. Itu yang kami pikirkan terlebih dahulu,” ujar Abut.

“Okelah kalau keuangan klub mungkin kami di manajemen sudah anggarkan lengkap dengan jangka waktunya dan bagi Persebaya sendiri tidak masalah. Namun, terpenting adalah bagaimana kami secara profesional dengan pemain karena ada hitam di atas putih lewat yang namanya kontrak,” katanya.