Mengapa Bali United Belum Mau Kerjasama dengan Apparel?

Dengan memiliki manajemen klub yang mumpuni serta pemain bintang, Bali United tentu menjadi magnet bagi sponsor-sponsor lokal maupun internasional untuk bekerjasama dengan mereka.

Namun dalam beberapa tahun terakhir Bali United memilih untuk memiliki dan memproduksi apparel atau jersey mereka sendiri, ketimbang bekerjasama dengan sebuah apparel.

Chief Executive Officer (CEO) Bali United, Yabes Tanuri mengaku banyak perusahaan Apparel yang ingin menjalin kerja sama dengan klubnya. Namun, ia memiliki alasan kuat mengapa Bali United menggunakan Apparel sendiri.

“Untuk Apparel kita banyak yang mau menjalin kerja sama. Tapi untuk saat ini kita belum melakukan kerja sama. Kita masih gunakan Apparel sendiri namanya ya, Bali United,” kata Yabes, seperti dikutip dari Liputan 6.

Tentu dengan bekerjasama dengan sebuah apparel harga jersey tim akan melambung tinggi. Hal itu yang dikhawatirkan oleh Yabes dapat mengganggu penjualan merchandise.

“Harga jersey dengan Apparel itu tinggi-tinggi sekali. Harga belinya akan melambung tinggi, secara otomatis harga jualnya juga akan semakin tinggi lagi,” katanya.

“Misalnya untuk membeli jersey dengan Apparel seharga Rp800.000-1.000.000 untuk produk original jersey dengan Apparel. Saya yakin akan menyebabkan berkurangnya pembelian,” ujar dia.

Sejauh ini Yabes mengakui klubnya memiliki nilai yang terus naik dalam sisi penjualan jersey tim.

“Penjualan sesuai target kita. Selalu ramai store kita. Untuk Apparel Bali United vendornya ada banyak. Meski menggunakan Apparel sendiri namun dari segi bisnis dan kualitas tentu cukup baik. Untuk produksi jersey menggunakan Apparel Bali United saat ini berada di Pulau Jawa,” katanya.