Tak Didukung Pemkot Surabaya, Persebaya Terancam Jadi Tim Musafir Musim Depan

Persebaya Surabaya terancam menjadi tim musafir pada musim depan. Tidak adanya dukungan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menjadi penyebabnya.

Persebaya dipersulit oleh Pemkot Surabaya untuk menggunakan Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) sebagai venue laga kandang. Terakhir, tim berjuluk Green Force ini merasa dikerjai saat menyelenggarakan Celebration Game melawan PSS Sleman pada 9 Desember lalu.

“Pertama gini, Persebaya itu masih trauma satu hal, kita ada masalah sama stadion, kita tidak di-support oleh Pemkot Surabaya. Di Celebration Game sudah tidak kuat, untuk kesekian lagi, kita dikerjai, kemarin itu chaos, tapi chaos-nya disengaja,” ujar Manajer Persebaya, Chairul Basalamah.

Chairul Basalamah. Copyright: Ninda Sahriyani/EJChairul Basalamah.
Chairul bingung dengan kebijakan Pemkot Surabaya. Jangankan untuk stadion, meminjam ataupun menyewa lapangan latihan milik Pemkot pun terus dihambat.

“Terus kita latihan, lapangan latihan yang diciptakan Pemkot Surabaya banyak (saja) kita (latihannya) susah. Anda kalau tidak percaya semua di sini boleh liputan khusus. Coba Anda telepon Dispora Surabaya, mau pinjam pake nama Persebaya, dikasih atau tidak, coba, ini fakta saja. Daripada saya berbicara berbusa-busa, coba saja telepon, iseng saja coba,” ungkap pria berkacamata ini.

Untuk itu, Persebaya tengah menggodok alternative venue homebase untuk musim depan. Stadion Tri Dharma, Gresik, dan Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, menjadi opsi yang paling layak.

“Mungkin Sidoarjo bisa alternatif, saya gak masalah kalo harus main ke Kalimantan, kita capek, mengurus tim malah ditarik kaya politik, tidak menarik, tidak make sense,” jelas Chairul.

“Kita cuma mau bermain sepakbola, kita punya suporter fanatik, kita mau menyenangkan mereka,” tutupnya.