PSIS ingin aturan marquee player dihapus

Manajemen PSIS Semarang meminta agar PT Liga Indonesia Baru dan PSIS menghapus aturan marquee player pada kompetisi Liga 1 musim depan. Sekalipun timnya sudah punya daftar pemain yang dinilai layak mengisi slot pemain bintang.

“Sebenarnya kita sudah ada beberapa kriteria untuk marquee player. Kita sudah punya daftarnya, tapi kita berharap supaya marquee player itu ditiadakan saja,” ungkap CEO PSIS, Yoyok Sukawi kepada Bola.net.

Alasan dirinya meminta pemain jebolan liga top Eropa tidak lagi bermain di Indonesia karena mereka datang dalam usia yang sudah tidak produktif. Sementara sepak bola Indonesia menuntut agar permainan selalu ditampikan dengan cepat.

“Marquee player itu rata-rata pemain tua. Kalau marquee player itu saya lihat malah bagusan pemain asing biasa dari pada marquee player karena marquee player rata-rata sudah umur, ” imbuhnya.

“Padahal sepak bola indonesia saya lihat perkembangannya semakin lama semakin cepat permainannya, Gak ada gunanya, ngangkat tim gak, cuma boros aja ngabisin uang,” imbuhnya.

Selain karena faktor itu, kehadiran marquee player juga mengurangi rasa keadilan. Mengingat, klub yang lebih kaya punya kesempatan untuk merekrut dua sampai tiga marquee player atau lebih. Sedang yang miskin justru semakin sulit bersaing.

“Sementarnya kalau kita bicara kompetisi itukan harusnya titik nolnya sama. Regulasi diadakan untuk keadilan, keadilan itu artinya sama kemampuannya,” jelasnya.

“Kalau marquee player itu kan jumlahnya bebas sejauh dia bisa beli. Kalau tim yang kaya kan bisa punya 2, 3 marquee player. Kalau yang tim biasa saja beli satu aja belum tentu mampu, itu kan gak adil namanya itu,” pungkasnya. (top/pra)

loading...

1 Comment

  1. Team baru datang banyak permintaan. Katanya start dari 0. Emang balap lari. Klo ga gitu ga ada team kaya real madrid. Itu idahnya sepakbola. Klo dihapus ga ada pluim. Essien . Sisoko. Dll. Klo di hapus marquee player saya malas datang ke stadion.

Comments are closed.