Mempertimbangkan Perlunya Ketum PSSI Memiliki Juru Bicara

Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, beberapa kali melontarkan pernyataan yang memancing kontroversi. Jadi orang nomor satu di PSSI, Edy dinilai butuh seorang juru bicara agar pernyataanya tidak kebablasan.

Edy belakangan sering mengeluarkan komentar ‘pedas’ terkait apapun yang menyangkut sepakbola Indonesia. Yang terakhir adalah tentang keputusan Evan Dimas dan Ilham Udin yang bermain di Liga Malaysia.

Pria 56 tahun itu sempat menyebut Evan dan Ilham tak memiliki jiwa nasionalisme dan hanya memikirkan uang. Pernyataan itu sontak menimbulkan kontroversi.

Edy dianggap tidak mengerti tujuan dari keputusan pemain merumput di luar negeri untuk mencari pengalaman. Padahal PSSI seharusnya mendukung pemain untuk bisa meningkatkan kualitasnya dengan cara bermain di kompetisi yang berbeda.

Tak hanya sekali, Edy juga sempat melontarkan komentar kontroversi lainnya. Salah satunya ketika masalah pendukung Persebaya Surabaya yang ingin datang ke Kongres PSSI pada Desember 2016 lalu.

Edy mengancam akan mencoret Persebaya jika Bonek datang ke Jakarta. Selain itu, juga soal tanggapannya tentang masa depan pelatih timnas U-19 Indra Sjafri, ketika itu pria asal Medan itu menyebut nasib Indra bukan lagi di ujung tanduk tapi di ujung kaki.

Pemerhati sepakbola Indonesia dari Save Our Soccer, Akmal Marhali, menilai pernyataan-pernyataan tersebut seharusnya bisa ‘direm’ karena akan merugikan PSSI. Ada kesan Edy memang dibiarkan untuk berbicara semaunya, padahal dia mempunyai bawahan alias pengurus PSSI yang bisa membantunya.

“Saya rasa dia perlu jubir, PSSI butuh jubir. Reformasinya tidak ada, yang ada cuma kontroversinya. PSSI memerlukan jubir atau setidaknya ada yang mengatur poin-poin normatif saja ketika bertemu dengan media,” ujar Akmal kepada detiksport.

“Pak Edy ini kan dikeliling pakar bahkan master sepakbola harusnya bisa mengerem dan mengarahkannya, jangan yang disampaikan malah fixing the damage,”

Akmal menilai jubir tersebut tak perlu jauh-jauh dari lingkungan PSSI. Yang terpenting orang tersebut paham komunikasi, sepakbola, dan tidak eksklusif.

“Kelemahan PSSI saat ini adalah pengurusnya terlalu ekslusif, terlalu tertutup. Terkesan takut terbuka kepada publik. Hal ini tidak bagus buat menjaga komunikasi dengan stakeholder dan menjaga kepercayaan masyarakat.”

“Harus punya jubir yang mampu menyakinkan bahwa PSSI dalam proses perubahan ke arah yang lebih baik. Bukan seperti ini hanya ganti casing saja, kepercayaan semakin menurun seiring dengan masalah yang datang bertubi-tubi tanpa solusi,”

“Atau setidaknya road map buat perbaikan. Operator liga lemah, komdis rapuh, pelaksana lapangannya (sekjen) juga tak berdaya. Akhirnya trust publik melemah,” katanya.