Cerita Arthur Bonai Soal Sulitnya Transportasi di Serui

Pemain anyar Persija Jakarta, Arthur Bonai, punya cerita unik ketika masih membela Perseru Serui. Menurutnya, bermain di sana memang sangat membutuhkan perjuangan.

Untuk para tim tamu, perjalanan tandang ke Serui memang menjadi cerita tersendiri. Sebagai gambaran, bila ditempuh setidaknya dari Jakarta, perjalanan bahkan mencapai 6-7 jam.

Tim yang berangkat harus menuju Biak dahulu, dan transit di Makassar. Sesampainya Biak, mereka bahkan masih menempuh sekitar 45 menit lagi untuk mencapai Kabupaten Yapen.

Itu juga tak bisa ditempuh melalui darat. Tim harus membagi beberapa gelombang lantaran wajib menggunakan pesawat kecil type cessna grand caravan dengan kapasitas 2 kru dan 9 penumpang dari Bandara Biak.

Sesampainya di Serui, tim juga masih dihadapkan perjalanan setidaknya 90 menit melalui darat. “Memang, harus diakui kandang Perseru itu jauh sekali. Salah satu kekurangannya itu memang transportasi, jadi jarang sekali media yang ke sana,” bilang Arthur Bonai.

Menurutnya, hal itulah yang membuat atmosfer sepak bola di Serui cukup berbeda. Sebab, untuk ke sana memang dibutuhkan uang serta usaha yang ekstra keras.

“Ke sana itu membutuhkan biaya yang tak sedikit. Tenaga juga yang dibutuhkan ekstra karena ya itu, transportasinya,” papar dia.

Selama membela Cenderawasih Jingga tentu banyak cerita yang dialami oleh Bonai. Apalagi, dia merupakan kapten dari Perseru.

“Banyak sekali suka-dukanya. Bahkan, saya pernah bertengkar dengan rekan sendiri. Tapi saya sebagai yang dituakan harus lebih sabar hadapi mereka,” papar pemain yang juga merupakan anggota TNI AD itu.

Ada satu kenangan indah yang dia jalani bersama Perseru. “Yang kemarin, akhirnya doa kami terjawab, Perseru bisa lolos dari degradasi,” tandas dia.