Tumbang di Tangan Suriah U-23, Ini Komentar Luis Milla

Timnas Indonesia U-23 menelan kekalahan 2-3 dari Suriah U-23 dalam pertandingan uji coba internasional, Kamis (16/11). Meski begitu, pelatih Luis Milla tetap memuji penampilan anak asuhnya.

Milla menyebut Suriah lebih unggul secara level permainan. Namun satu hal yang membuat pria asal Spanyol tersebut puas addalah semangat juang yang ditunjukkan pemain.

“Secara garis besar saya senang. Kami kebobolan tiga gol dan kami melihat Suriah punya level permainan lebih tinggi. Saya bilang anak-anak untuk bermain menunjukkan kemampuan terbaik,” ucap Milla.

“Anak-anak bermain penuh motivasi hari ini. Ada beberapa hal yang harus diperbaiki tapi itu wajar karena para pemain masih muda. Sekali saya senang karena anak-anak bermain dengan ngotot,” jelas Milla.

Timnas Indonesia rencananya akan kembali melawan Suriah pada tanggal 18 November. Dalam pertandingan ini delapan pemain senior akan bergabung ke dalam tim.

loading...

1 Comment

  1. Harusnya Timnas Indonesia U23 bisa mengembangi bahkan menang melawan Suriah. Pemain kita terlalu banyak salah umpan atau pasing, bingung di daerah lawan untuk set serangan, penguasaan dan cover bola secara individu lemah, intelegensia individu dan organisasi lemah dan hal ini permasalahan klasik pemain kita. Padahal dalam beberapa momen kita bisa merepotkan Suriah, terbukti dengan 2 gol. Dalam beberapa kesempatan terlihat pemain kita mempresing individu pemain Suriah tanpa tekel terlihat berhasil, tapi hal ini tidak terlihat konsisten dilakukan pemain kita. Beberapa kali pemain kita dengan kecepatan pemain sayap bisa merepotkan pertahanan Suriah dengan satu dua sentuhan tanpa terlalu lama pegang nola dan kebingungan karena tidak ada pergerakan rekan utk minta bola dan pergerakan tanpa bola membuka ruang tidak dilakukan. Permainan sepakbola Timnas Indonesia belum mencapai level sepakbola yang sesungguhnya yang bisa bersaing minimal di level Asia, sangat berat tugas Luis Mila dalam memenuhi target Asian Games 2018. Indra Safri sebenarnya sudah memulai Embrio sepakbola modern dan praktis saat era Timnas U19 Evan Dimas cs, skill individu dan organisasi permainan yang kuat dalam penguasaan bola, inteleginsia tinggi pada saat menyerang dan bertahan, tapi Indra Safri tidak bisa sendiri tanpa dukungan kuat dari seluruh stake holder persepakbolaan nasional, contohnya kompetisi usia dini yang berkesinambungan.

Comments are closed.