The Jakmania dan Viking Persib Club: Biarkan Berdamai Secara Natural

by in Suporter // 0 Comments

Perkembangan suporter sepakbola klub-klub Indonesia khususnya pendukung Persija dan Persib, The Jakmania dan Viking Persib Club belakangan ini menjadi sorotan publik.

Dua kelompok suporter yang sangat besar dan sudah lama berseteru itu tengah membuka jalan perdamaian. Kabar yang sangat menyejukan dan tentu dinanti oleh seluruh pecinta sepakbola di Indonesia karena permusuhan mereka sudah sangat kronis dan banyak merenggut korban termasuk korban meninggal dunia.

Korban terakhir adalah Ricko Andrean, bobotoh Persib yang meninggal dunia akibat dikeroyok oleh suporter Persib sendiri saat pertandingan Persib melawan Persija di GBLA pada 22 Juli lalu. Ricko dipukuli karena dikira suporter Persija setelah ia berusaha menyelamatkan The Jakmania.

Setelah lima hari koma di Rumah Sakit, Ricko akhirnya meninggal dunia. Kasus ini tentu mengundang keprihatinan banyak pihak, apalagi ini bukan kasus pertama meninggalnya suporter Persib dan Persija akibat dari permusuhan mereka.

Kesadaran, dorongan, bahkan tekanan dari berbagai pihak untuk melakukan perdamaian semakin kencang kepada kedua kelompok suporter. Bahkan mungkin mulai banyak yang ‘bermain’ dalam proses perdamaian karena masalah The Jakmania dan Viking memang sangat seksi.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada siapa pun yang ingin membantu perdamaian dengan alasan apa pun di baliknya, menurut saya biarkan The Jakmania dan Viking melakukan perdamaian secara natural karena faktanya mereka tengah merintis perdamaian.

Tidak perlu diundang kesana-sini seolah-olah dipertemukan atau dimediasi pihak ketiga, apalagi dipaksa untuk segera membuat deklarasi, kesepakatan tertulis, jumpa suporter, atau semacamnya. Yang mereka perlukan saat ini bukan itu karena masih banyak permasalahan, pro dan kontrak di dalam organisasi mereka yang harus diselesaikan terutama di daerah-daerah perbatasan tempat persinggungan dan perang sehari-hari antar mereka.

Perdamaian The Jakmania dan Viking sedang dirintis langsung oleh ketuanya, Ferry Indrasjarief dan Herru Joko. Beberapa hari setelah Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Bung Ferry, panggilan Ferry Indrasjarief, menyempatkan datang ke Bandung bertemu Herru Joko untuk bersilaturahmi sekaligus membuka jalan perdamaian.

Sebelum datang ke Bandung, Bung Ferry menghubungi Herru Joko dan disambut dengan sangat baik. Bung Ferry datang sendiri ke Bandung memakai travel dan bahkan dijemput oleh Herru Joko dari tempat kedatangan travel. Bukan hanya itu, Bung Ferry menginap semalam di rumah Herru Joko di daerah Antapani, Bandung.

Selain itu Herru Joko sempat mengantar Bung Ferry dengan memakai motor untuk berziarah ke makam Ayi Beutik (almarhum panglima Viking), makam almarhum Rangga, Bobotoh yang meninggal dunia di Senayan saat pertandingan Persib dan Persija beberapa tahun lalu dan bersilaturahmi ke rumah keluarga Rangga.

Kebetulan saya sempat menemani sehari kebersamaan Bung Ferry dan Herru Joko di Bandung karena saya memang mengenal baik keduanya, dan saya benar-benar merasakan suasana keakraban, persahabatan, dan niat tulus mereka untuk menghentikan perseteruan kelompok suporter yang mereka pimpin. Hal itu yang membuat saya meyakini perdamaian bisa terjadi dan tidak perlu pihak-pihak lain untuk menekan atau memaksa mereka berdamai.

Hanya saja, perseretuan yang sudah sangat lama dan mengakar, pasti memunculkan pro dan kontra di antara anggota mereka. Apalagi di daerah-daerah perbatasan seperti Bekasi, Bogor, Depok, Karawang, Tangerang, Cikampek, hingga Pandeglang yang jelas-jelas anggota mereka sama-sama kuat sehingga pergesekan bisa dikatakan terjadi sehari-hari.

Itu justru PR terbesar yang terlebih dulu perlu dan akan dibereskan oleh mereka. Kampanye dan sosialiasi perdamaian di daerah-daerah persinggungan jauh lebih mendesak dibanding pertemuan-pertemuan yang digagas pihak ketiga. Tidak difasilitasi pihak ketiga pun nyatanya mereka bisa bertemu sendiri dan memang sepakat untuk merintis perdamaian.

Viking Persib Club dan The Jakmania adalah organisasi yang sudah sangat dewasa. Saat ini VPC berusia 24 tahun dan The Jakmania memasuki usia 20 tahun. Sekarang mereka sudah sangat memahami apa yang harus dilakukan dan bagaimana harus bersikap. Nah, kita yang berada di luar organisasi suporter tersebut, apakah itu media, kepolisian, pemerintah, PSSI, bahkan klub tidak perlu mendorong-dorong apalagi menekan mereka. Kita tetap menjalankan fungsi masing-masing saja sambil mendukung langkah-langkah perdamaian yang mereka lakukan.

Media tetap memberitakan, mengontrol, mengingatkan, dan mengkritisi. Pihak kepolisian menjalankan tugasnya dalam hal sepakbola dan suporter tentu menjaga keamanan pertandingan dan keselamatan suporter. Jika ada yang melenceng, rusuh, termasuk seperti munculnya kasus Ricko, segera ditindak dan diproses sesuai hukum. Kepolisian juga perlu memberikan contoh yang baik agar suporter merasa dilindungi hak-haknya. Kasus penonton tanpa tiket yang bisa masuk ke stadion dan menonton pertandingan karena oknum-oknum tertentu juga harus ditindak tegas, seperti video yang beredar di media sosial dimana terlihat beberapa oknum memasukan suporter tanpa tiket di pertandingan Persib.

Pemerintah lebih baik menjadi yang terdepan dalam mendorong perbaikan-perbaikan dan penyediaan infrastuktur untuk sepakbola agar pertandingan dan perkembangan sepakbola bisa sesuai harapan. Apa kabar stadion untuk Persija? Hal-hal ini lebih dinanti oleh suporter, ketimbang membuat acara-acara seremonial.

PSSI sebaiknya membuat regulasi-regulasi dan menjalankannya dengan lebih baik. Kasus hukuman untuk Persib setelah rusuh di GBLA tentu menjadi pertanyaan banyak pihak. Dihukum 5 pertandingan tanpa penonton, tetapi kemudian menjadi simpang siur dan terkesan akal-akalan. Ini tidak mendidik untuk klub dan suporter.

Sedangkan tugas klub, lebih baik fokus pada profesionalisme dan perbaikan di dalam tim dan manajemen, dengan tetap menjaga komunikasi yang baik dengan kelompok-kelompok suporter. Jika klub tampil baik dan dikelola dengan cara-cara profesional, niscaya suporter dengan sendirinya akan tumbuh dan terbawa menjadi lebih baik, dan itu justru yang bisa turut menghidupi klub.

Jadi, biarkan perdamaian The Jakmania dan Viking Persib Club berjalan secara natural karena mereka memang mau berdamai. Tidak perlu ada yang bermain, apalagi jika dipolitisasi.

loading...
[X] close