Menuju Kompetisi Asia, Status Bhayangkara FC Belum Jelas

Bhayangkara FC menjadi kandidat kuat juara Liga 1 musim ini. Masuk pekan ke-28, klub berjuluk The Guardians ini berada di posisi puncak klasemen dengan 59 poin, atau unggul empat poin atas Bali United yang berada di bawahnya.

Andai pun nantinya tidak jadi juara, namun Bhayangkara FC berpeluang besar finis di 3 besar Liga 1. Dengan begitu, mereka mendapatkan jatah untuk bermain di level kompetisi Asia.

Indonesia diberikan jatah oleh Asosiasi Sepakbola Asia (AFC) satu slot di Liga Champions Asia, dan dua slot di Piala AFC musim depan. Namun, klub yang akan bermain di sana mesti terlebih dahulu lolos proses lisensi AFC.

Bhayangkara FC rupanya memiliki masalah. Sebab, salah satu syarat lisensi AFC adalah badan hukum klub harus dua tahun berdiri. Sedangkan mereka baru 2017 ini mengambil alih dari Surabaya United.

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) kini jadi satu-satunya tumpuan bagi Bhayangkara FC untuk bisa berlaga di kompetisi Asia. Harapannya, PSSI bisa melakukan lobi kepada AFC untuk meminta keringanan.

Namun, Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria, tak ingin memberi harapan besar. Pihaknya juga harus menelaah lebih jauh, apakah Bhayangkara FC layak untuk diperjuangkan sehingga regulasi AFC bisa diterabas.

“Saya tidak dalam posisi melobi sesuatu yang sudah jelas. Kita ya manut, kalau memang regulasinya begitu. Kita bisa bertanya untuk meminta keringanan, tapi kita akan telaah lebih lanjut pantas tidak kita melakukan itu,” ujar Tisha.

“Untuk itu kita akan telaah dalam Committe Club Licensing terlebih dahulu, dan nanti laporan ke Komite Eksekutif, baru ditindaklanjuti oleh Sekjen kebijakan seperti apa,” imbuhnya.

Klub Liga 1 yang bermasalah dengan badan hukum terkait lisensi AFC kali ini bukan hanya Bhayangkara FC. PS TNI yang membeli Persiram Raja Ampat dan Madura United dari Pelita Bandung Raya juga mengalaminya. (one)

loading...