16 Besar Liga 2: Deretan Mantan Panaskan Laga Persis Versus PSS

Pertemuan antara Persis Solo melawan PSS Sleman di Stadion Manahan, Minggu (24/9/2017) memunculkan banyak fakta dan cerita menarik.

Hal tersebut berkaitan dengan deretan para pemain yang sebelumnya sempat berkostum tim Laskar Sambernyawa maupun Super Elang Jawa. Mereka bakal sedikit melupakan kenangan saat masih berkostum tim lawan.

Biasanya, para pemain yang menghadapi mantan klubnya akan tampil lebih dari bisanya. Mereka tentu ingin menunjukkan kualitas sekaligus pembuktian diri.

Tak jarang, sang mantan memberikan hadiah menyakitkan bagi klub yang dibela sebelumnya. Untuk laga Persis melawan PSS, setidaknya ada beberapa nama yang memiliki predikat mantan.

Berikut pemain-pemain yang bakal menghadapi mantan klubnya tersebut.

Chandra Waskito (Striker PSS Sleman)

Striker muda PSS Sleman ini memang tak bisa dipisahkan dari Kota Solo. Selain putra asli Kota Bengawan, Kito merupakan produk asli Persis Solo mulai level anak-anak, junior, hingga senior.

Bahkan penyerang 22 tahun itu sempat tiga musim berkostum tim Laskar Sambernyawa. Namun Kito kalah bersaing dengan pemain lain, terutama para striker senior dan memutuskan hengkang ke Madiun Putra di pentas Indonesian Soccer Championship (ISC) B.

Performa apik bersama The Blue Force di fase penyisihan membuat PSS Sleman kepincut dan merekrutnya mulai babak 16 Besar. Kito langsung nyetel dan mencetak gol dalam laga debut ke gawang Persita Tangerang.

Performa apiknya di ISC B lalu membuat manajemen tak ragu menyodori kontrak pemain kelahiran Solo 19 Agustus 1994 tersebut.

”Memang sedikit aneh saya bermain di Stadion Manahan tapi melawan Persis Solo. Jika dimainkan, saya akan bekerja profesional untuk PSS Sleman. Termasuk akan selebrasi jika mencetak gol,” ungkap Kito.


Jodi Kustiawan (Stoper PSS Sleman)

Bek sentral 25 tahun itu memang hanya sebentar berkostum Persis Solo saat mengikuti turnamen Plumbon Cup di Karanganyar, medio 2015 silam.

Namun, Jodi mampu memberikan kesan mendalam setelah ikut mengantar Persis meraih gelar juara. Eks bek Perssu Sumenep itu tampil kokoh di lini belakang dan jadi salah satu pemain yang mendapat nilai plus dari manajemen.

Jodi sebenarnya juga masuk radar pelatih Persis saat ini, Widyantoro. Bahkan manajemen sempat melakukan pembicaraan dengan sang pemain. Namun Jodi memilih bergabung dengan PSS Sleman.

Meski hanya sebentar berkostum Persis, namun Jodi tentu paham dengan kualitas beberapa individu pemain tim Kota Bengawan. Hal tersebut bisa menjadi keuntungan bagi PSS di laga nanti karena sudah mengenal karakter pemain lawan.


Agung Prasetyo (Kiper Persis Solo)

Kiper sekaligus kapten Persis itu juga tak bisa dilepaskan dari PSS Sleman. Maklum saja, Agung merupakan kiper utama tim Kota Sembada di pentas ISC B lalu.

Ia turut mengantar PSS Sleman menembus partai final meski akhirnya takluk, 3-4 dari PSCS Cilacap dalam pertarungan di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara. Belum lagi Agung merupakan putra asli Kabupaten Sleman.

Uniknya, sebelum bersama PSS di ISC B 2016, Agung merupakan penjaga gawang nomor satu Persis di kompetisi Divisi Utama musim 2014-2015. Performa camiknya mampu membawa tim Laskar Sambernyawa melaju hingga babak 8 besar 2015.

Dia lantas jadi salah satu pemain yang dipertahankan manajemen Persis sebelum kompetisi Divisi Utama ditiadakan karena sanksi pembekuan PSSI.

Meski kompetisi vakum, kiper 28 tahun itu masih berkostum Persis dalam beberapa turnamen dan uji coba sebelum diboyong manajemen tim Kota Sembada tahun lalu.


Tri Handoko (Striker Persis Solo)

Tri Handoko memiliki jalan cerita yang hampir sama dengan Agung Prasetyo. Striker yang akrab disapa Ndok itu tahun lalu berkostum PSS Sleman di pentas ISC B.

Ia jadi trio mematikan tim Super Elang Jawa bersama Riski Novriansyah dan Dicky Prayoga saat itu. Perannya cukup vital sebagai penyerang sayap sehingga mampu membawa PSS Sleman menembus partai puncak.

Sebelum berkostum PSS, pemain 29 tahun itu sempat berkostum Persis di kompetisi Divisi Utama versi Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) 2013 di era dualisme kompetisi.

Saat itu, Ndok jadi pilihan utama di lini depan sebelum Persis memutuskan mundur di tengah kompetisi. Setelah dari Persis, dirinya sempat berkostum PSIM Yogyakarta sebelum menyebrang ke PSS Sleman. Kini Tri Handoko jadi andalan tim Kota Bengawan di lini depan.


Widyantoro (Pelatih Persis Solo)

Nama pelatih asal Magelang itu melambung bersama PSS Sleman di kompetisi Divisi Utama versi Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) 2013.

Widyantoro mampu membawa PSS menjadi tim berkarakter yang saat itu diperkuat striker Persis sekarang, Tri Handoko dan juga stopper Timnas Indonesia, Fachrudin Wahyudi Aryanto. Dirinya sempat menjadi pelatih incaran PSS Sleman di musim 2015 dan 2016.

Dirinya juga sempat terlibat friksi saat diusir wasit dari lapangan kala PSS dijamu Persis di Stadion Manahan, Solo. Setahun berselang, Widyantoro merapat ke Persis dan menjadi idola publik sepak bola Kota Bengawan hingga sekarang.

”Intinya kita semua saudara, termasuk dengan PSS Sleman sampai saat ini. Saya bekerja profesional dan berusaha membantu agar sepak bola berjalan lebih baik,” kata Widyantoro.

loading...