agen bola judi online, agen bola terpercaya, agen bola piala dunia 2014, judi bola, judi piala dunia, taruhan bola, bandar bola, taruhan online, judi poker

Martapura FC: Sanksi Komdis PSSI untuk Ali Budi Tak Manusiawi

by in Liga 2 // 0 Comments

Laga Persebaya Surabaya kontra Martapura FC (27/7/2017) di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, berbuntut panjang. Duel yang diwarnai beberapa insiden keras ini berdampak negatif terhadap Martapura FC.

Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan hukuman kepada tiga pemain Martapura FC, yakni Marcel Huwae dan Erwin Gutawa yang diganjar kartu merah harus absen tiga kali bertanding, serta sanksi paling berat diterima kiper Ali Budi Raharjo.

Ali Budi Raharjo dilarang 10 kali bermain. Artinya, Ali Budi Raharjo bakal menjalani skorsing hingga kompetisi Liga 2 berakhir.

Kubu Martapura FC meradang dengan keputusan sepihak dari Komdis PSSI tersebut. “Kami diperlakukan tak adil. Pemain kami tak dipanggil untuk didengar kesaksian mereka di sidang. Lalu apa bukti Komdis menjatuhkan sanksi untuk pemain Martapura FC?” kata Muhamad Hilman, Ketua Umum Martapura FC.

Sanksi dari Komdis PSSI dinilai Muhamad Hilman tidak mendidik karena selama ini banyak keputusan bagi tim dan pemain, baik di Liga 1 dan Liga 2, ternyata tidak memberi efek jera.

“Kami belum melihat pengaruh dari sanksi tersebut. Toh masih banyak pelanggaran yang dilakukan pemain,” ujar Hilman.

Dia juga tidak habis pikir dengan pasal-pasal yang dikutip Komdis PSSI untuk menghukum pemain Martapura FC. “Kami sama sekali buta dengan pasal-pasal itu karena kami sama sekali tak pernah diberi buku panduan aturan dan hukuman itu. Seharusnya Komdis mensosialisasikan aturan itu sehingga kami melek hukum,” tutur Hilman.

Padahal, lanjut Hilman, kejadian saat pertandingan di Stadion Gelora Bung Tomo karena tekanan luar biasa yang dialami pemain Martapura FC.

“Tekanan mental yang dialami pemain sangat berat. Selain teror di lapangan, kami juga diteror di luar lapangan. Kami diberi bus jelek untuk ke stadion sehingga kami terpaksa turun dari bus dan naik taksi, karena bus mogok di tengah jalan. Apakah Komdis juga menghukum panpel Persebaya?” ungkap Hilman.

Khusus skorsing untuk Ali Budi Raharjo, dinilai Hilman tidak manusiawi. “Kami akan banding karena kondisi keluarga Ali saat ini butuh dana. Istrinya sedang hamil tua, tentu butuh biaya besar untuk persalinan. Jika dia dia dihukum seberat itu, otomatis Ali tak bisa dapat penghasilan dari main bola. Padahal, ini satu-satunya mata pencaharian dia,” jelas Hilman.

loading...
[X] close