agen bola judi online, agen bola terpercaya, agen bola piala dunia 2014, judi bola, judi piala dunia, taruhan bola, bandar bola, taruhan online, judi poker

Friska Womsiwor: Dari Tarkam ke Tarkam, Lalu Jadi Bintang Muda Persipura

by in Bintang // 0 Comments

Winger Persipura Jayapura, Friska Womsiwor, menyita perhatian setelah mencetak hat-trick ke gawang Mitra Kukar. Dia memulai karier dari tarkam ke tarkam.

Laga pekan ke-12 Liga 1 menghadirkan sebuah catatan baru dalam kemenangan Persipura 6-0 atas Mitra Kukar. Adalah Friska, 22 tahun, yang jadi pemain lokal sekaligus pemain muda pertama yang bisa cetak hat-trick.

Pemain dengan nomor punggung 23 itu juga bukanlah dari latar belakang keluarga yang berada. Friska mengaku bahwa ayahnya hanyalah seorang supir ojek dan saat ini ibunya cuma seorang ibu rumah tangga setelah pensiun jadi PNS. Friska juga merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara.

Semasa kecil, Friska suka bermain sepakbola di waktu hujan dengan telanjang kaki. Namun, saat beranjak besar dia mendapatkan sepatu sepakbola dari pamannya yang baru pulang dari Palembang.

“Saya mulai main bola itu dari SD. Waktu itu setiap hujan saya sama teman-teman main telanjang kaki. Kami senang acak-acak lapangan kalau becek-becek gitu. Setelah SMP baru mulai main pakau sepatu,” kata Friska dalam wawancaranya bersama beberapa media termasuk detikSport di Hotel Aston, Bekasi Barat.

“Saya dapat sepatu dari paman saya setelah dia pulang dari Palembang. Mulai saat itu dia sering ajak saya ke lapangan. Kalau tidak salah usia saya baru 12 tahun,” sambungnya.

Friska bukanlah pesepakbola yang hadir dari hasil didikan sekolah sepakbola, dia hanyalah pemain yang merintis karier dari pertandingan tarkam ke tarkam di setiap daerah. Dia bahkan sempat pergi ke Tangerang untuk mencari peruntungan lewat tarkam setelah dibawa oleh pemain Liberia yang berkiprah di Liga Indonesia, Alex Robinson.

Selama di Tangerang, dia berada satu tim dengan orang-orang dari Liberia. Saat itu dia sempat diremehkan karena posturnya yang kecil. Namun, setelah bermain para rekannya di tim mulai mempercayainya.

“Pertama saya latihan mereka suka ganggu saya. Dia bilang ‘pemain bola apa kecil seperti ini’. Tapi, Alex Robinson bilang jangan hiraukan, saya disuruh buktikan saja. Setelah lihat saya main di pertandingan baru mereka mengakui dan kemudian mereka mau bantu saya cari tim.”

“Mereka suruh saya ikut seleksi ke Persija, tapi saya tidak berani. Saya mau main dari (level) bawah dulu. Karena bagi saya bahaya main langung ke tim besar, kalau saja sekali jatuh, akan jatuh terus. Jadi saya harus merasakan dari bawah dulu.”

Selepas dari tarkam di Tanggerang, Friska mendapat jalan menuju PSCS Cilacap. Ketika itu dia dibawa oleh Roberto Kwateh ke Cilacap pada 2015. Namun, saat sudah siap bermain, kompetisi malah harus berhenti lantaran konflik PSSI dengan pemerintah.

Seiring waktu berjalan, Friska kembali ikut kompetis tarkam yang diadakan Bank Papua di Jayapura. Kesempatan itulah yang membawanya bergabung dengan Persipura setelah timnya masuk ke laga final dan ditonton langsung oleh Jafri Sastra, yang pada saat itu jadi pelatih tim Mutiara Hitam.

“Awalnya waktu itu di Jayapura ada kompetisi Liga Bank Papua kalau tidak salah ingat, terus di turnamen itu saya top skorer dan kemudian masuk Persipura setelah dibawa coach Jafri Sastra. Dia tonton saya di final turnamen itu,” lanjut Friska.

“Ketika saya masuk, senior menyambut saya dengan baik. Cuma sayanya saja yang gugup dan kaget. Soalnya dulu cuma bisa liat mereka di televisi.”

“Kakak Ricardo (Salampessy), Boaz (Solossa), dan Ian (Kabes) banyak bantu saya untuk kasih masukan sebelum dan sesudah pertandingan. Saya juga terima kasih sekali ke kakak Boaz karena umpan-umpan dia saya bisa buat hattrick. Umpannya dia sangat bagus.”

Setelah di Persipura perjalanan Friska sedikit sudah berubah. Dia tak akan lagi bermain di pertandingan-pertandingan tarkam. Bersama Boaz Solossa dkk. Friska juga sudah mencetak empat gol dari 12 laga, yang tiga di antaranya dilesakkan ke gawang Mitra Kukar.

Hat-trick itupun dia persembahkan untuk kedua orang tuanya, yang selama ini tak pernah melihatnya mencetak gol saat menonton langsung.

“Gol itu untuk orang tua. Soalnya selama dia tonton, saya tidak cetak gol. Nah, di pertandingan itu dia ucapin selamat, tapi pas dia tidak nonton juga,” ungkapnya.

loading...